Kamis, 16 Juli 2026

Mencari Keindahan Didalam Diri Sendiri Yang Ditidak Disadari Oleh Orang Lain Dan Juga Diri Sendiri

Melihat keindahan didalam diri sendiri yang orang lain tidak melihatnya. Bahkan diri sendiri pun tidak menyadari bahwa keindahan itu benar – benar ada. Kalimat itulah yang tergiang ditelingaku saat ini.

Disini aku mencoba mencerna arti dari kalimat itu sambil memandangi rerumputan hijau yang ada didepan mata. Sambil berfikir dan memandangi rerumputan, Aku juga menikmati kopi sekaligus beberapa cemilan untuk berfikir.

Duduknya Tenang Sambil Tersenyum Tetapi Pikirannya Sedang Berperang

Kira – kira keindahan seperti apa yang ada didalam diriku hingga aku sendiri tidak menyadari bahwa keindahan itu ada ? Setelah berfikir beberapa saat, Aku mulai mengambil sebuah Kesimpulan yang entah ini benar atau tidak.

Jadi menurutku keindahan itu identic dengan hal – hal yang positif. Jadi mungkin itu adalah sebuah kelebihan, keahlian, kemampuan yang baik dan bermanfaat, atau kebaikan dan ketulusan. Bila memang itu benar lalu apa yang selama ini aku miliki ?

Keindahan Yang Juga Kelemahan

Bila memang itu kebaikan maka mungkin saja itu adalah sebuah ketulusan atau kepercayaan. Jujur aku sering sekali melakukan banyak hal untuk sebuah tujuan. Ketetapan itu juga sudah disepakati oleh beberapa teman ku.

Karena aku percaya kepada teman – temanku maka aku banyak meluangkan bahkan bisa dibilang mengorbankan waktuku untuk mencapai tujuan tersebut. Aku melakukannya dengan tulus dan sering kali tidak mendapatkan bayaran.

Susah Senang Bersama Untuk Tujuan Yang Sudah Ditetapkan

Karna memang tujuan yang sudah ditetapkan itu belum tercapai. Tetapi aku tetap percaya bahwa bila tujuan itu sudah tercapai, maka aku akan mendapatkan bayarannya. Aku sangat percaya bahwa temanku tidak akan menghianatiku.

Tetapi pada kenyataannya, Temanku malah menganggapku tidak melakukan kontribusi apapun. Padahal faktanya, hasil itu tidak akan bisa sebagus itu tanpa kontribusi dan pengorbanan yang aku lakukan.

Persitiwa – peristiwa ini tidak hanya terjadi satu kali didalam hidupku. Tetapi sudah beberapa kali hingga aku tidak mau lagi percaya kepada teman – temanku untuk urusan bisnis. Karna pada akhirnya mereka selalu mengingkari kesepakatan yang sudah ditetapkan.

Berjalan Bersama Mencapai Sebuah Tujuan

Padahal aku banyak melakukan pengorbanan dan mengerjakannya dengan hati yang Ikhlas. Dan aku percaya bila temanku tidak akan menghianatiku. Mungkin ketulusan dan kepercayaan itulah yang menjadi keindahan didalam diriku.

Entah ini benar atau tidak, Karna menurutku itu merupakan sebuah kelemahan. Tetapi faktanya aku selalu menaruh kepercayaan kepada teman – temanku. Aku juga seringkali mengerjakan kesepakatan yang sudah ditetapkan dengan hati yang tulus.

Tidak Ada Yang Menyadarinya

Katanya keindahan yang aku miliki itu tidak disadari oleh diri sendiri dan juga orang lain. Maka sifat tulus dan kepercayaan itulah yang menurutku paling relevan. Karna aku tidak menyadari bahwa aku memiliki sifat seperti itu.

Tidak Menyadari Hingga Aku Lebih Memilih Untuk Berjalan Sendirian

Bahkan orang lain pun tidak menyadarinya, Atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli dengan hal tersebut. Karna setelah mereka sudah mencapai tujuannya, Mereka melupakan kontribusi yang sudah aku lakukan.

Itulah yang semakin menguatkan aku bahwa ketulusan dan kepercayaan itulah yang dimaksud dengan keindahan yang ada didalam diriku. Hingga membuat orang lain dan diri sendiri tidak menyadari keindahan tersebut.

Senin, 18 Mei 2026

Berhasil Menjadi Lebih Baik Dibandingkan Tahun Sebelumnya

Momen lebaran sudah berlalu tetapi perasaan puas masih sangat terasa dihati. Karna memang faktanya lebaran tahun 2026 ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Dimana saat itu aku benar – benar tidak punya uang.

Bukan karna tidak bekerja, Tetapi karna memang aku bekerja untuk orang yang salah. Gaji ku ditahan hingga 1 bulan dan bonusku juga tidak kunjung cair. Akhirnya lebaran ditahun 2025 kemarin, Aku tidak memegang uang.

Perasaan sedih dan kesal menyatu didalam hati, Tetapi mulut harus terus tersenyum. Jadi saat itu aku terpaksa harus tersenyum walaupun hati ini terasa hancur. Bisa dibilang energi ku sudah habis untuk memaksa otot wajah tetap tersenyum.

Gembira Karna Berhasil Menjadi Individu Yang Lebih Baik

Dari situ muncullah pembicaraan yang kurang enak untuk didengar oleh telingaku. Dimana aku merasa banyak orang yang meragukan pekerjaanku. Mereka mengira bahwa aku tidak bekerja sama sekali.

Tidak peduli bekerja atau tidak, Karna faktanya adalah gajiku yang memang terlalu kecil. Tidak peduli sekeras apapun aku bekerja, Hasilnya akan tetap sama. Gaji kecil ini disebabkan karna akulah yang bekerja ditempat yang salah.

Tentu saja hal ini membuat aku menjadi sangat malu hingga kepercayaan diriku menjadi hancur lebur. Beruntung aku masih memiliki istri yang sangat sabar, Dia masih bisa tersenyum melihatku yang saat itu sedang rapuh.

Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja ditempat tersebut setelah lebaran. Dan aku sangat bersyukur dengan keputusanku saat itu, Karna setelah itu aku bisa mendapat kesempatan yang lebih bagus.

Gaji yang aku dapatkan ditempat yang baru juga cukup memuaskan hatiku. Dan aku pun terus ikhtiar, fokus, dan menyelesaikan tugas – tugasku dengan sebaik mungkin. Bekerja sesuai dengan jobdesk yang diberikan, Selebihnya lupakan.

Tetap Menikmati Hidup Walaupun Dengan Apa Adanya

Peristiwa pahit yang aku alami saat lebaran tahun 2025 itu terus aku ingat sampai hari ini. Tetapi bukan untuk balas dendam, Hanya sebagai pengingat agar tidak lagi bekerja ditempat sekaligus orang yang salah. Karna hal itu hanya akan merepotkan diri sendiri.

Alhamdulillah, Lebaran ditahun 2026 ini terasa berbeda bagiku. Bisa dibilang, aku dipertemukan bulan Ramadhan dalam keadaan yang jauh lebih baik. Setidaknya secara finansial aku bisa berbagi dengan saudara – saudara dan orang – orang terdekat.

Memang tidak banyak, Tetapi hal itu masih lebih baik dibandingkan tahun 2025. Dimana aku harus berjuang menahan rasa malu sambil menahan wajah agar tetap terlihat tersenyum. Padahal didalam hati, Aku sedang menangis tersedu – sedu.

Sabtu, 09 Mei 2026

Bekerja Ditempat Baru

Awalnya aku ragu bekerja ditempat tersebut, Tetapi entah kenapa alam seperti mendorongku agar bekerja ditempat tersebut. Alhasil tidak lama setelah lebaran, Aku pun memutuskan untuk bekerja ditempat yang baru tersebut.

Diluar dugaan, Ternyata ditempat baru tersebut aku bisa mendapatkan beberapa hal baru yang positif. Memang tidak semuanya positif, Ada juga beberapa hal yang menurutku negative. Tetapi menurutku keputusanku mengambil pekerjaan ini cukup tepat.

Memulai Sesuatu Rutinitas Baru

Tentu saja salah satu hal positifnya adalah bisa mendapatkan uang lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Tetapi selain uang, Aku juga bisa mendapatkan hal yang menurutku jauh lebih berharga dibandingkan uang.

Tentu saja Keputusan yang aku ambil ini juga memiliki dampak negative dihidupku. Tetapi hal itu masih cukup layak untuk aku Jalani. Dan pada artikel ini aku akan membahas hal positif dan negative dari Keputusan yang aku buat.

Hal – Hal Positif

Ditempat kerja ku yang baru, Aku diharuskan datang lebih pagi. Hal itu tentu tidak masalah bagiku, Karna memang bagiku bangun pagi adalah sebuah rutinitas yang sudah aku Jalani setiap hari.

Jadi kerja dipagi hari bukanlah sesuatu hal yang baru bagiku. Dan hal yang mengejutkanku saat bekerja ditempat baru ini adalah rekan kerjaku yang ternyata memiliki kesamaan dalam standard kebersihan.

Bersemangat Untuk Bersih - Bersih

Bahkan bisa dibilang rekan kerja ku ini memiliki standard kebersihan yang jauh lebih baik dibandingkan aku. Tidak hanya kebersihan, Rekan kerja ku ini juga rajin dalam beribadah. Seperti rutin menunaikan solat duha.

Hal ini membuat suasana dalam bekerja menjadi lebih nyaman. Jujur aku sangat kaget dengan fakta ini. Tentu hal ini sangat berbeda dengan kondisi kantorku yang sebelumnya, Dimana rekan kerja ku sama sekali tidak peduli dengan kebersihan.

Mereka hanya mampu bicara tentang kebersihan, Tetapi perilaku mereka sangat berbeda dengan apa yang mereka bicarakan. Hal itu membuatku muak dan kesal, Bahkan hanya untuk mencuci gelas bekas ngopi pun mereka tidak bersedia.

Tetap Bersih - Bersih Untuk Lingkungan Yang Lebih Nyaman Dan Sehat

Selain itu aku juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan ilmu – ilmu yang baru. Dimana ilmu yang sangat bermanfaat itu sangatlah berguna untuk hidup. Tidak hanya ilmu yang baru, Tetapi juga cara dan pola pikir yang baru.

Hal positif lainnya adalah aku tetap punya kesempatan untuk menjalankan solat dzuhur berjamaah dimasjid. Sekaligus punya lebih banyak waktu untuk berdzikir tanpa harus menganggu pekerjaan yang aku Jalani.

Hal – Hal Negative

Hal negative pertama yang aku rasakan adalah pekerjaan ini lebih banyak menyita waktuku yang sebelumnya terbiasa bekerja freelance. Memang sebenarnya pekerjaan ku saat ini hanya dari pagi sekitar jam 9 hingga jam 5 sore.

Tetapi kenyataannya aku harus datang lebih pagi dibandingkan yang lain agar mendapatkan posisi yang lebih strategis. Jadi terpaksa aku harus datang sampai kantor sekitar pukul 6.30 atau pukul 7.30 WIB.

Banyak Waktu Yang Tersita

Beruntungnya tempat kerjaku tidak jauh dari rumah, Jadi aku bisa berangkat lebih Santai. Tetapi tetap saja kebiasaan olahraga dipagi hari yang sudah 3 tahun aku Jalani harus aku tinggalkan atau setidaknya dikurangi waktunya.

Jadi singkatnya, Waktuku dalam berolahraga dipagi hari harus berkurang. Selain itu aku yang sebelumnya freelance dan tidak terikat menjadi kurang leluasa dalam bergerak. Aku jadi harus mengabaikan beberapa klien – klien ku yang lainnya untuk sementara waktu.

Sabtu, 28 Maret 2026

Kalau Orang Lain Bisa, Maka Kamu Juga Harus Bisa

Lagi enak – enak menikmati suasana pagi yang sejuk, Pikiranku melayang kearah yang tidak aku inginkan. Lagi – lagi ingatan pahit dimasa kecil hingga membekas didalam hati. Dan seiring berjalannya waktu, kenangan pahit itu berubah menjadi luka batin.

Kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Itulah kata – kata yang tergiang – giang ditelingaku. Kata – kata itu keluar dari mulut ibuku saat aku masih kecil. Dan perkataan itu keluar saat aku sedang mengalami kegagalan.

Berusaha Untuk Tetap Tegar

Awalnya hal itu tidak menjadi masalah bagiku, Sampai pada akhirnya perkataan itu mulai sering terdengar ditelinga. Jujur saja, Aku merasa sangat terganggu dengan kata – kata tersebut. Karna bagiku itu bukanlah perkataan motivasi.

Tetapi sebuah perintah agar aku bersedia melakukan apa yang dikatakan ibuku. Dimana aku harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan. Tentu saja hal itu sangat menyiksa masa kecilku.

Awal Mula Dan Tekanan

Saat aku masih kecil, tepatnya ketika aku masih duduk dibangku SD. Aku memiliki teman – teman yang pintar dalam bidang akademik. Sedangkan aku benar – benar tidak bisa melakukan hal tersebut.

Disitulah ibuku berkata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Kata – kata itu sering dikatakan oleh ibuku saat aku menangis karna belajar terlalu keras. Aku sendiri bingung kenapa aku tetap tidak bisa, Padahal sudah belajar dengan keras.

Cuaca Cukup Gelap Seperti Keadaan Hati Ini

Tetapi tangisanku tetap tidak membuat orang tuaku iba dan kasihan. Mereka tetap memberikanku tekanan dalam belajar. Hingga air mataku menetes ke buku Pelajaran yang sedang aku kerjakan.

Jadi kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa” yang sering terdengar diteligaku itu sangat menyedihkan bagiku. Karna perkataan itu adalah alasan bagi ibuku untuk memberikan aku tekanan dalam belajar, Bukan motivasi.

Tidak Boleh Menggunakan Logika Yang Sama

Perlu diketahui bahwa kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”, Hanya berlaku untukku. Dan tidak berlaku untuk orang lain, Khususnya untuk kedua orang tuaku. Dan inilah aturan tidak tertulis yang dibuat oleh kedua orang tuaku.

Jelas aturan itu dibuat untuk melindungi kepentingan kedua orang tuaku. Karna faktanya, Teman – temanku yang pintar dibidang akademik itu hampir semuanya dari kalangan orang mampu bahkan kaya raya.

Terus Berusaha Untuk Mandiri

Setidaknya mereka memiliki rumah bagus dan banyak mainan mahal. Kesekolah diantar naik mobil pribadi, Bahkan beberapa dari mereka memiliki sopir pribadi. Sedangkan aku berangkat kesekolah hanya menggunakan kendaraan umum.

Lalu setelah turun dari kendaraan umum itu aku melanjutkan perjalanan yang cukup jauh menuju sekolah. Karna Lokasi sekolahku tidak bisa dijangkau oleh kendaraan umum. Aku bisa saja bicara “Kalau orang lain bisa, Maka orang tua harusnya juga bisa”.

Aku mau seperti mereka, diantar kesekolah naik mobil pribadi, Memiliki banyak mainan mahal, tinggal dirumah yang mewah, dll. Tetapi aturan tidak tertulis membuat aku tidak bisa bicara seperti itu.

Rabu, 11 Maret 2026

Kenangan Buruk Yang Sulit Dilupakan

Pagi ini matahari bersinar dengan terang, Memancarkan kehangatan ditengah udara yang cukup dingin. Aku pun menikmatinya dengan menghidup udara segar itu dalam – dalam. Mata ku juga terfokus pada daun hijau yang dipenuhi embun pagi.

Suasana yang menyejukkan hati ini seharusnya bisa menyegarkan pikiran dan hatiku. Tetapi entah kenapa suasana itu malah mengingatkanku pada sebuah kenangan buruk yang pernah terjadi saat diriku masih kecil.

Walaupun Cuacanya Adem, Tapi Pikiran Tetap Berantakan

Dan hampir setiap pagi aku mengingat kenangan buruk yang sebenarnya ingin sekali ku lupakan. Tetapi jika aku melupakan kenangan itu, Maka itu akan berdampak buruk bagi sifatku. Aku menjadi lebih cepat marah bila ada kondisi yang mengangguku.

Walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu marah untuk menghadapi kondisi tersebut. Itulah sebabnya aku tidak bisa melupakan kenangan buruk tersebut. Dan dengan sangat terpaksa, Aku terus membawa kenangan buruk itu didalam ingatanku.

Kenangan 30 Tahun Yang Lalu

Peristiwa itu terjadi 30 tahun yang lalu, Sekitar pertengahan tahun 90’an. Sudah cukup lama dan seharusnya sudah bisa dilupakan dengan mudah. Tetapi faktanya, Kenangan buruk itu selalu hampir selalu menghantuiku setiap hari.

Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi hari diakhir pekan. Dimana biasanya waktu tersebut digunakan oleh keluarga kelas menengah ditempat yang dianggap menyenangkan. Disana mereka melakukan berbagai kegiatan bersama.

Kenangan Yang Selalu Teringat Meski Sudah 30 Tahun Yang Lalu

Ada yang bersepeda, ada yang hanya sekedar berjalan sambil cuci mata, dan ada pula yang berolahraga. Kebetulan saat itu keluargaku memilih untuk berjalan – jalan bersama sambil mencuci mata.

Disamping kanan kiri jalanan itu terdapat banyak sekali orang yang sedang berjualan. Mulai dari jualan makanan, minuman, alat – alat rumah tangga, hingga pakaian. Aku berjalan Santai bersama kedua orang tuaku.

Apakah Kesalahan Ini Layak Untuk Dihukum Seperti Itu ?

Suatu ketika saat sedang berjalan Santai dengan kedua orang tuaku. Disituasi yang ramau tersebut, Aku yang saat itu masih kecil mencelupkan sedikit jari tangan ku ke dalam wadah penjual es campur.

Saat itu aku hanya ingin tahu apa yang ada didalam air es campur tersebut. Jelas saja penjual es campur tersebut serentak berkata “Jangan dek!!”. Sesaat setelahnya, Tangan ayahku menghantam kepalaku dengan kencang dari belakang “Plaakkk !!!”.

Rasa Sedih Dan Rasa Takut

Aku pun langsung mengangkat tanganku, Dan langsung menggandeng tangan ibuku dengan erat. Setelah memukulku ayahku langsung membentakku dari posisi yang sama “Sembarangan aja kamu tuh, Dasar Malu – maluin !!!”.

Kata – kata itu terdengar sangat keras dan menyeramkan ditelingaku, Bahkan sampai saat ini pun aku masih merasakan sakitnya bentakkan tersebut. Padahal peristiwa itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.

Sambil memegang tangan ibuku, Aku terus berjalan kearah depan dengan mata yang berkaca – kaca sambil menahan rasa malu. Bukannya berhenti, Ayahku justru memukul kepalaku lagi dari berlakang.

Tetapi pukulan kali ini disertai dengan kata – kata “Nangis kamu !!!, Nangis ??!!”. Dari situ aku langsung berusaha untuk menahan air mataku agar tidak tertumpah. Sambil terus memegang erat tangan ibuku.

Rumah Yang Tidak Lagi Menjadi Tempat Aman

Saat itu aku berharap agar ibuku membelaku dengan menahan amarah ayahku. Tetapi harapan itu tidak pernah terjadi. Ibuku malah diam seperti tidak terjadi apa – apa, Biarpun aku memegang tangannya dengan erat.

Memiliki Sifat Buruk

Terus terang, Sebenarnya aku sudah memaafkan kedua orang tuaku tentang kenangan buruk tersebut. Bahkan aku juga sudah sempat melupakan kenangan buruk tersebut untuk beberapa lama.

Tetapi kenangan itu malah membekas di sifat dan menjadi karakterku. Emosiku menjadi tidak stabil dan cepat marah bila ada situasi yang diluar dugaanku. Tentu itu bukanlah sifat yang menyenangkan.

Perasaan Yang Putus Asa Itu Juga Berasal Dari Kenangan 30 Tahun Lalu

Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa sifat buruk itu harus dihilangkan. Karna sifat itu bisa melukai orang – orang yang aku sayangi. Aku pun merenung untuk memikirkan alasan kenapa sifat buruk itu ada didalam diriku.

Akhirnya aku pun menyadari bahwa penyebab dari sifat buruk tersebut adalah kenangan buruk yang pernah terjadi 30 tahun yang lalu. Dimana ayahku memukul kepalaku dari belakang dengan keras didepan umum.

Sejak saat itulah, kenangan buruk itu sering menghantuiku disetiap pagi. Aku tidak bisa melupakan kenangan yang menyakitkan itu. Walaupun sebenarnya itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.

Tidak Merasa Bersalah

Saat aku sedang berjuang untuk menyembuhkan luka batin. Tiba – tiba ayahku berkata “Lupakan masa lalu, Fokus sama masa depan”. Kalimat itu tentu tidak salah, Hanya saja menurutku kalimat itu keluar dimomen yang salah.

Dan momen yang salah inilah yang membuat kalimat itu terdengar seperti pelecehan bagiku. Dan kalimat itu juga menambah beban mental dihatiku. Karna aku berusaha seorang diri untuk menyembuhkan luka batinku.

Kelelahan Mental Membuatnya Untuk Menjauh Dari Orang Tua

Orang tuaku sama sekali tidak pernah bertanya kepadaku tentang kesulitan – kesulitan yang aku hadapi. Bahkan pencapaian – pencapaianku tidak pernah dihargai oleh kedua orang tuaku. Hatiku benar – benar terasa sakit saat mendengar kalimat tersebut.

Jujur aku menulis artikel ini bukan karna aku dendam pada kedua orang tuaku. Tetapi karna aku berusaha untuk mengurangi beban luka batin yang sudah terlalu lama ada didalam hatiku. Dan aku meluapkan semua bebanku itu didalam tulisan yang aku buat ini.

Minggu, 08 Maret 2026

Hikmah Yang Aku Dapat Dari Acara Buka Puasa Bersama Tahun 2026

Entah kenapa akhir – akhir ini aku merasa agak malas bila diajak untuk datang ke acara buka puasa bersama. Padahal sebelumnya aku senang sekali bila ada yang mengajakku untuk buka puasa bersama.

Hati tidak lagi merasa nyaman bila melakukan buka puasa bersama di tempat – tempat seperti itu. Juju raku harus melakukan effort lebih sekaligus meniatkan hati agar kakiku mau bergerak ke tempat acara.

Momen Buka Puasa Bersama Dengan Rekan - Rekan Kerja

Mungkin karna usiaku yang semakin bertambah aku jadi tidak lagi punya keinginan untuk mengikuti acara buka puasa bersama. Bagiku saat ini momen buka puasa lebih enak dilakukan dirumah atau di masjid bersama tetangga – tetangga.

Tetapi kali ini ajakan untuk hadir dalam acara buka puasa bersama datang dari atasan. Mau tidak mau atau suka tidak suka, Aku harus bersedia untuk memenuhi ajakan tersebut. Akhirnya aku pun berangkat menuju tempat acara menggunakan mobil.

Keputusan Sepele Tapi Krusial

Karena tempat acara yang cukup jauh, Maka aku memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta KRL. Tetapi seorang rekan kerja menawarkan tumpangan dengan menggunakan mobil menuju ke tempat acara.

Aku pun setuju untuk nebeng bersama mereka yang terdiri dari 7 orang termasuk diriku. Semua datang tepat waktu di titik kumpul lalu bergegas berangkat pada sore hari. Semua berjalan sesuai dengan rencana hingga keluar pintu tol.

Kondisi Macet Saat Menjelang Berbuka

Keadaan macet hingga membuat mobil yang kami tumpangi tidak bergerak sedikitpun. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5.17 WIB. Beruntung tempat acara buka puasa bersama itu tidak begitu jauh.

Hanya sekitar 1,5 km atau hanya tinggal beberapa menit bila ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tetapi karna macet yang parah, jarak itu terasa cukup jauh untuk ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Awalnya kami semua sabar dengan kemacetan yang terjadi, Sampai ada seseorang yang mengusulkan untuk jalan kaki saja. Setelah melakukan diskusi singkat, Maka 3 dari 7 orang di mobil memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan kaki.

Dan salah satu dari 3 orang yang berjalan kaki itu adalah aku. Kami bertiga berjalan kaki dengan hati yang cukup lega dan hati yang senang. Bahkan ditengah perjalan itu kami bertiga masih sempat berfoto.

Jalan Kaki Menuju Tempat Berbuka

Hingga pada akhirnya kami bertiga pun sampai tepat waktu di acara buka puasa bersama tersebut. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu adzan Magrib pun berkumandang. Kami bertiga pun menikmati hidangan yang sudah disediakan ditempat tersebut.

Sementara 4 orang teman kami yang masih bertahan dimobil. Hingga mereka semua akhirnya harus berbuka puasa dengan minuman dan makanan seadanya dijalan karna macet. Mereka berempat baru sampai ke tempat berbuka puasa pada sekitar pukul 18.40an. 

Janjian Ke Rumah Teman

Karna saat ini aku sudah tidak tinggal dikota tersebut, Maka aku memutuskan untuk bersilaturahmi dengan teman lama ku di kota tersebut. Aku berfikir kapan lagi aku bisa singgah dikota ini, Kalo bukan karna acara kantor.

Jadi aku pun menghubungi temanku tersebut, Tapi ternyata teman ku berhalangan untuk bertemu. Akhirnya kami tidak jadi bertemu, Dan aku pun mengambil Keputusan pulang dengan rute yang berbeda dari rekan kerjaku sebelumnya.

Jadi awalnya aku berangkat bersama dengan menggunakan mobil, Lalu pulangnya aku sendirian menggunakan kereta KRL. Acara buka puasa bersama berlangsung cukup lancar dengan makanan yang sangat enak.

Berjalan Sendirian Di Malam Hari

Aku pun makan dengan lahab hingga perut terasa sangat kenyang. Hingga waktu pulang pun tiba, Aku memutuskan untuk berpisah dengan 6 orang rekan kerjaku. Meskipun aku tidak jadi bertemu dengan teman lamaku di kota tersebut.

Aku tetap memutuskan pulang sendirian karna memang aku menginginkannya. Dan ternyata disinilah tantangan mulai muncul. Jam sibuk membuat aku sangat kesulitan mencari transportasi roda dua.

Karna terlalu lama aku menunggu dan waktu sudah semakin larut malam. Akhirnya aku memutuskan berjalan kaki menuju stasiun KRL terdekat. Jarak dari tempatku berdiri saat itu dengan stasiun KRL cukup jauh, Sekitar 6,4 Km.

Aku berjalan dengan kecepatan sedang ditengah kondisi hujan dan cuaca yang cukup dingin. Aku berjalan setapak demi setapak sambil sesekali kau berusaha mencari ojek untuk mengantarkan aku ke stasiun KRL terdekat.

Tetapi hal itu ternyata tidak mudah untuk dilakukan, Karna mungkin saat itu sedang jam sibuk. Akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali berjalan, Dan ditengah perjalanan inilah hatiku mulai merasa sangat jengkel.

Meluapkan Emosi Yang Tertahan

Entah kenapa saat itu pikiranku jadi melayang – layang secara liar. Luka batin itu muncul lagi saat aku sedang berjalan dimalam yang sudah larut. Aku berteriak dan memaki – maki masa laluku yang menjengkelkan dipinggir trotoar yang gelap dan sepi.

Seperti meluapkan semua emosi dan amarah yang selama ini tertahan. Ternyata situasi yang gelap dan sepi itu tidak membuatku takut sedikitpun. Aku malah menggunakan situasi itu untuk meluapkan semua kejengkelan yang ada dihatiku.

Kelelahan Mental Membuatnya Frustasi Dan Melampiaskannya Dengan Berteriak

Meskipun aku meluapkan amarahku, Aku tetap bersyukur karna setidaknya perutku dalam kondisi kenyang. Jadi bisa dibilang semua kalori yang aku makan saat berbuka itu langsung aku bakar dengan berjalan kaki.

Dan setelah berjalan cukup jauh dari tempatku berbuka puasa, Aku pun akhirnya bisa menemukan ojek. Dan ojek itu mengantarkan aku menuju ke stasiun KRL terdekat dengan lancar dimalam yang sudah sangat larut.

Hikmah Yang Aku Dapat Dari Acara Buka Puasa Bersama

Setelah berhasil sampai dirumah sekitar pukul 01.00 WIB, Aku langsung membersihkan diri dan bergegas untuk istirahat. Lalu keesokan harinya aku merenungi kejadian kemarin, Disitulah aku menemukan beberapa hikmah yang bisa aku dapat.

Berawal dari saat aku berangkat menuju tempat acara berbuka puasa. Aku dan 2 orang temanku yang lain memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat acara berbuka puasa. Karna memang jaraknya tidak terlalu jauh.

Istirahat Sambil Menenangkan Pikiran

Dan akhirnya aku dan 2 orang temanku berhasil sampai tepat waktu di tempat acara. Lalu setelah itu bisa menikmati hidangan yang sangat enak. Sedangkan 4 orang yang lainnya memilih untuk tetap didalam mobil.

Hingga akhirnya mereka berempat harus buka puasa didalam mobil dengan air dan makanan yang seadanya. Dari kejadian itu aku berfikir bahwa memang kita membutuhkan usaha extra untuk mencapai sesuatu dengan lebih cepat.

Lalu saat pulang, Aku memutuskan untuk berpisah jalan. Bisa dibilang ini adalah Keputusan yang kurang tepat. Karna ternyata aku harus mengeluarkan effort yang cukup melelahkan. Sebenarnya itu tidak masalah bagiku.

Tetapi bila Keputusan itu aku ambil saat bersama dengan istriku. Maka pilihan itu menjadi pilihan yang sangat buruk. Aku tidak bisa membayangkan bila saat itu aku harus berjalan cukup jauh bersama dengan istriku untuk menuju stasiun KRL terdekat.

Tertidur Setelah Kelelahan 

Ditengah kondisi trotoar jalan yang sepi dan lumayan gelap. Ditambah lagi dengan cuaca yang cukup dingin karna baru saja terjadi hujan lebat. Mungkin aku masih bisa melakukannya sendirian, Tetapi istriku tidak mungkin aku tega melakukannya.

Dari sini aku belajar untuk berfikir secara matang sebelum memutuskan sebuah pilihan. Jangan jadi orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Karna Keputusan yang aku ambil akan berdampak pada istriku dimasa yang akan datang.

Senin, 26 Januari 2026

Keputusan Berat Untuk Menjauh Dari Orang Tua

Sudah hampir 1 tahun ini aku memutuskan untuk menjauh dan menjaga jarak dengan kedua orang tuaku. Aku melakukannya bukan untuk memutuskan hubungan dengan keduanya, Tetapi hanya sekedar menjaga jarak aman untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku selalu berharap agar kedua orang tuaku tidak terluka dengan Keputusan yang sudah aku ambil. Jujur sebenarnya aku tidak mau melakukannya, Tetapi sepertinya aku harus melakukan ini untuk Kesehatan mental dan ketenangan jiwaku.

Semoga Jiwaku Bisa Seluas Lautan

Sudah cukup selama ini aku menahan tekanan dari nasehat – nasehat kedua orang tuaku yang sepertinya menyudutkan posisiku sebagai anak. Awalnya memang aku bisa menahan semuanya sendirian, Tetapi seiring berjalannya waktu aku merasa sangat tersiksa.

Sampai pada lebaran tahun 2025 kemarin aku merasa sangat tidak kuat dengan penghakiman dari kedua orang tuaku. Tentu saja penghakiman ini berbalut dengan nasehat – nasehat yang halus, Tetapi itu cukup menusuk jauh kedalam hatiku.

Momen Lebaran Tahun 2025

Pada tahun 2025 saat menjelang lebaran aku masih bekerja menjadi freelance disebuah Perusahaan, Dimana pada saat itu gajiku ditahan karna suatu alasan. Meskipun pada akhirnya gaji dan bonusku cair, Tetapi itu terjadi jauh setelah lebaran.

Jadi singkatnya, Saat lebaran aku sama sekali tidak gajian. Disaat yang lainnya bisa tersenyum karna THR dan gaji sudah cair, Aku hanya bisa terdiam menahan rasa kecewa. Suasana kumpul keluarga pun tidak terlalu menyenangkan bagiku saat itu.

Berusaha Tetap Tabah Dan Lapang Dada

Dan dimomen itulah bukannya menghibur hatiku yang sedang dongkol, Ayahku malah berkata “Kamu kurang kerja keras, Makanya bekerjalah dengan lebih keras”. Memang itu terdengar seperti nasehat yang baik.

Tetapi entah kenapa bagiku itu terdengar seperti sebuah penghakiman yang menyakitkan. Aku sudah bekerja tanpa ada libur dan berusaha menghasilkan kinerja terbaik yang aku bisa. Tetapi tanpa mengetahui apa – apa Ayahku malah berkata demikian.

Bagiku tertahannya bonus saat itu merupakan hal yang menyakitkan. Tetapi perkataan dari ayahku saat itu ternyata jauh lebih meyakitkan lagi. Saking menyakitkannya, Aku sampai tidak lagi berharap untuk mendapatkan bonus tersebut. 

Tetap Kuat Seperti Batu Karang

Dan sejak saat itulah muncul perasaan kecewa yang mendalam pada kedua orang tuaku. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk dinasehati, Tetapi setidaknya dengarkanlah keluh kesahku terlebih dahulu sebelum menasehatiku.

Perasaan kecewa itulah yang membuat aku memutuskan untuk mengambil sebuah Keputusan yang berat. Dan Keputusan itu adalah menjauh dari kedua orang tuaku. Setidaknya aku mengambil Keputusan ini untuk kebaikan Kesehatan mentalku.

Hati Yang Hancur

Jujur ketika ayahku mengatakan itu, Mental dan hatiku sangat hancur. Aku benar – benar menangis didalam hatiku. Tentu saja hal ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, Tetapi sering sekali terjadi didalam hidupku.

Mereka sudah melakukan hal itu sejak aku masih kecil. Mereka tidak pernah mau mendengar keluh kesahku sama sekali. Walaupun ada beberapa keluh kesahku yang didengar, Tetapi pada akhirnya hanya ada penghakiman bagiku.

Berusaha Menikmati Kehidupan Melalui Alam

Sampai pada akhirnya aku menyerah dan tidak pernah lagi berharap agar kedua orang tuaku mendengar cerita – ceritaku. Aku lebih memilih untuk memendam semua hal sendirian, Tidak peduli itu adalah hal yang menyenangkan atau menyedihkan.

Apakah Aku Anak Yang Durhaka ?

Awalnya aku sempat berfikir bahwa aku adalah anak yang durhaka. Tetapi faktanya aku tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang anak. Aku selalu mendoakan kedua orang tuaku dengan Ikhlas setelah sesesai menunaikan solat.

Aku selalu berharap agar kedua orang tuaku selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Aku selalu mendoakan yang baik – baik untuk kedua orang tuaku. Aku juga berharap bahwa suatu saat kedua orang tuaku sadar dan merubah sifatnya pada ku.

Tetap Tenang Seperti Hutan

Dan ditengah keterbatasan yang aku miliki saat ini, Istriku selalu berusaha untuk menyisihkan Sebagian rejeki keluarga kecil ku ini untuk memberikan hadiah pada kedua orang tuaku. Hal itu dilakukan agar hati kedua orang tuaku merasa senang.

Meskipun sering kali aku tidak terlalu bersemangat dalam hal tersebut. Tetapi itu bukan disebabkan oleh kurangnya perasaan Ikhlas. Melainkan karna tenaga yang sudah sangat terkuras untuk menjaga diri ini tetap waras.

Bisa dibilang aku memang tidak hadir secara fisik, Tetapi aku selalu berusaha untuk terus menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuaku. Disini aku hanya menjauh dan menjaga jarak dengan kedua orang tuaku agar hatiku tidak merasa tersiksa dan tertekan.