Sabtu, 17 Januari 2026

Disalahkan Dan Dipaksa Minta Maaf

Tahun memang baru saja berganti, Keinginan dan harapan baru saja diucapkan dari mulut. Tetapi bayangan dari masa lalu Kembali muncul dan menghantui pikiranku. Ingatan tentang Potongan – potongan peristiwa dimasa kecil.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ingin aku ingat, Bahkan dikenang. Hal – hal seperti itulah yang sering menghantui pikiran hingga perasaanku selama tahun 2025 kemarin. Peristiwa Dimana aku selalu disalahkan dan diabaikan oleh orang tuaku sendiri.

Suasana Untuk Mengobati Rasa Sakit Hati

Sulit sekali hidup dengan membawa luka batin dimasa kecil. Aku selalu berusaha untuk berdamai dengan luka batinku sendiri. Tetapi ternyata hal itu tidak semudah yang dibayangkan, perang dengan pikirannya sendiri.

Mungkin itulah yang terjadi pada diriku saat ini, Luka batin yang sering muncul tiba – tiba tanpa sebab yang jelas. Membuat perasaan kecewa dan kesal bercampur didalam hatiku. Setelah itu pekerjaanku menjadi terganggu.

Sebenarnya ada banyak ingatan yang menyakitkan muncul didalam pikiranku. Dan saat ini yang muncul diingatan ku adalah ketika aku dipersalahkan tanpa alasan yang jelas. Lalu ayahku yang melihat persitiwa itu sama sekali tidak membelaku. 

Jadi saat itu aku masih berusia sekitar 5 atau 6 tahun dan sedang berada dirumah saudara dari ibuku. Pada masa itu saudara dari ibuku ini cukup kaya raya, Jadi memiliki rumah dan halaman yang sangat luas.

Alam Yang Membuat Hatiku Tenang

Jadi tidak heran bila saudara dari ibuku ini memiliki beberapa mobil dan beberapa ekor kucing sebagai hewan peliharaannya. Dan peristiwa itu terjadi disiang hari, Aku asik menonton film kartun diruang keluarga.

Kebetulan posisi ruang keluarga tempat aku menonton TV bersebelahan dengan ruang makan. Dimana diruangan tersebut terdapat meja makan yang cukup lebar dengan bangku yang cukup mewah dimasa itu.

Seperti layaknya anak kecil pada umumnya, mataku begitu fokus menonton film kartun yang disiarkan melalui TV. Saking fokusnya, Aku sama sekali tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai peristiwa yang terjadi disekitarku.

Meski begitu sekilas aku sempat menoleh kearah belakang dan melihat ada beberapa ekor kucing yang naik ke meja makan. Kucing – kucing tersebut terlihat sedang memakan sesuatu dari diatas meja makan.

Aku tidak terlalu peduli pada kucing – kucing tersebut, Karna memang aku sedang fokus pada film kartun yang sedang aku tonton. Lalu tidak lama setelah itu kakak sepupu ku jalan dari kamarnya ke ruang makan.

Momen Itu Terkadang Muncul Dalam Ingatan Saat Makan

Disitu dia bertanya “Lho kok ikannya abis ?”, Aku yang mendengar kata – kata itu pun berfikir sejenak dan menyadari sesuatu. Ternyata yang dimakan oleh kucing – kucing barusan adalah seekor ikan.

Mengetahui fakta tersebut, Aku pun menoleh sambil berkata “iya kak tadi ikannya dimakan kucing”. Aku berfikir bahwa fakta itu mungkin akan menyenangkan hatinya. Tetapi ternyata aku salah besar.

Kakak sepupuku murka saat mengetahui fakta tersebut, Tanpa pikir Panjang dia langsung memarahiku dengan nada membentak. Dia berkata “Kalo kamu liat dimakan kucing, Kenapa kucingnya gak diusir ?!”.

Aku yang bingung pun tidak terlalu mengambil pusing, dan hanya diam sambil menonton film kartun di TV. Karna merasa kesal, Kakak sepupuku Kembali berjalan ke kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal.

Ternyata peristiwa itu dilihat oleh ayahku yang kebetulan sedang duduk Santai di ruang tamu. Dia menghampiri ku dan berkata “Kamu harus minta maaf pada kakak sepupumu”. Aku pun bingung, Kenapa aku yang dipersalahkan ?

Ingin Rasanya Aku Keluar Dari Momen Itu

Aku hanya sedang menonton kartun di TV, Dan kucing – kucing yang memakan ikan tadi juga bukan kucing sembarangan. Kucing – kucing itu adalah hewan peliharaan kakak sepupuku yang sudah dia rawat sejak masih kecil. Jadi apakah itu benar – benar menjadi salahku ?

Karna saat itu aku masih kecil, Jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Dan aku pun menurut pada ayahku untuk meminta maaf kepada kakak sepupuku. Beruntung, Respon dari kakak sepupuku begitu hangat menyambut permintaan maafku.

Terus terang, wajah dari kakak sepupuku saat itu masih aku ingat hingga hari ini. Dia tersenyum lebar sambil bertaka “Gpp kok, Maaf ya tadi udah marah - marah”. Semula aku memang sedikit takut karna sudah dimarahi, Tetapi responnya yang hangat membuat hatiku terasa hangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.