Sabtu, 28 Maret 2026

Kalau Orang Lain Bisa, Maka Kamu Juga Harus Bisa

Lagi enak – enak menikmati suasana pagi yang sejuk, Pikiranku melayang kearah yang tidak aku inginkan. Lagi – lagi ingatan pahit dimasa kecil hingga membekas didalam hati. Dan seiring berjalannya waktu, kenangan pahit itu berubah menjadi luka batin.

Kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Itulah kata – kata yang tergiang – giang ditelingaku. Kata – kata itu keluar dari mulut ibuku saat aku masih kecil. Dan perkataan itu keluar saat aku sedang mengalami kegagalan.

Berusaha Untuk Tetap Tegar

Awalnya hal itu tidak menjadi masalah bagiku, Sampai pada akhirnya perkataan itu mulai sering terdengar ditelinga. Jujur saja, Aku merasa sangat terganggu dengan kata – kata tersebut. Karna bagiku itu bukanlah perkataan motivasi.

Tetapi sebuah perintah agar aku bersedia melakukan apa yang dikatakan ibuku. Dimana aku harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan. Tentu saja hal itu sangat menyiksa masa kecilku.

Awal Mula Dan Tekanan

Saat aku masih kecil, tepatnya ketika aku masih duduk dibangku SD. Aku memiliki teman – teman yang pintar dalam bidang akademik. Sedangkan aku benar – benar tidak bisa melakukan hal tersebut.

Disitulah ibuku berkata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Kata – kata itu sering dikatakan oleh ibuku saat aku menangis karna belajar terlalu keras. Aku sendiri bingung kenapa aku tetap tidak bisa, Padahal sudah belajar dengan keras.

Cuaca Cukup Gelap Seperti Keadaan Hati Ini

Tetapi tangisanku tetap tidak membuat orang tuaku iba dan kasihan. Mereka tetap memberikanku tekanan dalam belajar. Hingga air mataku menetes ke buku Pelajaran yang sedang aku kerjakan.

Jadi kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa” yang sering terdengar diteligaku itu sangat menyedihkan bagiku. Karna perkataan itu adalah alasan bagi ibuku untuk memberikan aku tekanan dalam belajar, Bukan motivasi.

Tidak Boleh Menggunakan Logika Yang Sama

Perlu diketahui bahwa kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”, Hanya berlaku untukku. Dan tidak berlaku untuk orang lain, Khususnya untuk kedua orang tuaku. Dan inilah aturan tidak tertulis yang dibuat oleh kedua orang tuaku.

Jelas aturan itu dibuat untuk melindungi kepentingan kedua orang tuaku. Karna faktanya, Teman – temanku yang pintar dibidang akademik itu hampir semuanya dari kalangan orang mampu bahkan kaya raya.

Terus Berusaha Untuk Mandiri

Setidaknya mereka memiliki rumah bagus dan banyak mainan mahal. Kesekolah diantar naik mobil pribadi, Bahkan beberapa dari mereka memiliki sopir pribadi. Sedangkan aku berangkat kesekolah hanya menggunakan kendaraan umum.

Lalu setelah turun dari kendaraan umum itu aku melanjutkan perjalanan yang cukup jauh menuju sekolah. Karna Lokasi sekolahku tidak bisa dijangkau oleh kendaraan umum. Aku bisa saja bicara “Kalau orang lain bisa, Maka orang tua harusnya juga bisa”.

Aku mau seperti mereka, diantar kesekolah naik mobil pribadi, Memiliki banyak mainan mahal, tinggal dirumah yang mewah, dll. Tetapi aturan tidak tertulis membuat aku tidak bisa bicara seperti itu.

Rabu, 11 Maret 2026

Kenangan Buruk Yang Sulit Dilupakan

Pagi ini matahari bersinar dengan terang, Memancarkan kehangatan ditengah udara yang cukup dingin. Aku pun menikmatinya dengan menghidup udara segar itu dalam – dalam. Mata ku juga terfokus pada daun hijau yang dipenuhi embun pagi.

Suasana yang menyejukkan hati ini seharusnya bisa menyegarkan pikiran dan hatiku. Tetapi entah kenapa suasana itu malah mengingatkanku pada sebuah kenangan buruk yang pernah terjadi saat diriku masih kecil.

Walaupun Cuacanya Adem, Tapi Pikiran Tetap Berantakan

Dan hampir setiap pagi aku mengingat kenangan buruk yang sebenarnya ingin sekali ku lupakan. Tetapi jika aku melupakan kenangan itu, Maka itu akan berdampak buruk bagi sifatku. Aku menjadi lebih cepat marah bila ada kondisi yang mengangguku.

Walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu marah untuk menghadapi kondisi tersebut. Itulah sebabnya aku tidak bisa melupakan kenangan buruk tersebut. Dan dengan sangat terpaksa, Aku terus membawa kenangan buruk itu didalam ingatanku.

Kenangan 30 Tahun Yang Lalu

Peristiwa itu terjadi 30 tahun yang lalu, Sekitar pertengahan tahun 90’an. Sudah cukup lama dan seharusnya sudah bisa dilupakan dengan mudah. Tetapi faktanya, Kenangan buruk itu selalu hampir selalu menghantuiku setiap hari.

Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi hari diakhir pekan. Dimana biasanya waktu tersebut digunakan oleh keluarga kelas menengah ditempat yang dianggap menyenangkan. Disana mereka melakukan berbagai kegiatan bersama.

Kenangan Yang Selalu Teringat Meski Sudah 30 Tahun Yang Lalu

Ada yang bersepeda, ada yang hanya sekedar berjalan sambil cuci mata, dan ada pula yang berolahraga. Kebetulan saat itu keluargaku memilih untuk berjalan – jalan bersama sambil mencuci mata.

Disamping kanan kiri jalanan itu terdapat banyak sekali orang yang sedang berjualan. Mulai dari jualan makanan, minuman, alat – alat rumah tangga, hingga pakaian. Aku berjalan Santai bersama kedua orang tuaku.

Apakah Kesalahan Ini Layak Untuk Dihukum Seperti Itu ?

Suatu ketika saat sedang berjalan Santai dengan kedua orang tuaku. Disituasi yang ramau tersebut, Aku yang saat itu masih kecil mencelupkan sedikit jari tangan ku ke dalam wadah penjual es campur.

Saat itu aku hanya ingin tahu apa yang ada didalam air es campur tersebut. Jelas saja penjual es campur tersebut serentak berkata “Jangan dek!!”. Sesaat setelahnya, Tangan ayahku menghantam kepalaku dengan kencang dari belakang “Plaakkk !!!”.

Rasa Sedih Dan Rasa Takut

Aku pun langsung mengangkat tanganku, Dan langsung menggandeng tangan ibuku dengan erat. Setelah memukulku ayahku langsung membentakku dari posisi yang sama “Sembarangan aja kamu tuh, Dasar Malu – maluin !!!”.

Kata – kata itu terdengar sangat keras dan menyeramkan ditelingaku, Bahkan sampai saat ini pun aku masih merasakan sakitnya bentakkan tersebut. Padahal peristiwa itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.

Sambil memegang tangan ibuku, Aku terus berjalan kearah depan dengan mata yang berkaca – kaca sambil menahan rasa malu. Bukannya berhenti, Ayahku justru memukul kepalaku lagi dari berlakang.

Tetapi pukulan kali ini disertai dengan kata – kata “Nangis kamu !!!, Nangis ??!!”. Dari situ aku langsung berusaha untuk menahan air mataku agar tidak tertumpah. Sambil terus memegang erat tangan ibuku.

Rumah Yang Tidak Lagi Menjadi Tempat Aman

Saat itu aku berharap agar ibuku membelaku dengan menahan amarah ayahku. Tetapi harapan itu tidak pernah terjadi. Ibuku malah diam seperti tidak terjadi apa – apa, Biarpun aku memegang tangannya dengan erat.

Memiliki Sifat Buruk

Terus terang, Sebenarnya aku sudah memaafkan kedua orang tuaku tentang kenangan buruk tersebut. Bahkan aku juga sudah sempat melupakan kenangan buruk tersebut untuk beberapa lama.

Tetapi kenangan itu malah membekas di sifat dan menjadi karakterku. Emosiku menjadi tidak stabil dan cepat marah bila ada situasi yang diluar dugaanku. Tentu itu bukanlah sifat yang menyenangkan.

Perasaan Yang Putus Asa Itu Juga Berasal Dari Kenangan 30 Tahun Lalu

Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa sifat buruk itu harus dihilangkan. Karna sifat itu bisa melukai orang – orang yang aku sayangi. Aku pun merenung untuk memikirkan alasan kenapa sifat buruk itu ada didalam diriku.

Akhirnya aku pun menyadari bahwa penyebab dari sifat buruk tersebut adalah kenangan buruk yang pernah terjadi 30 tahun yang lalu. Dimana ayahku memukul kepalaku dari belakang dengan keras didepan umum.

Sejak saat itulah, kenangan buruk itu sering menghantuiku disetiap pagi. Aku tidak bisa melupakan kenangan yang menyakitkan itu. Walaupun sebenarnya itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.

Tidak Merasa Bersalah

Saat aku sedang berjuang untuk menyembuhkan luka batin. Tiba – tiba ayahku berkata “Lupakan masa lalu, Fokus sama masa depan”. Kalimat itu tentu tidak salah, Hanya saja menurutku kalimat itu keluar dimomen yang salah.

Dan momen yang salah inilah yang membuat kalimat itu terdengar seperti pelecehan bagiku. Dan kalimat itu juga menambah beban mental dihatiku. Karna aku berusaha seorang diri untuk menyembuhkan luka batinku.

Kelelahan Mental Membuatnya Untuk Menjauh Dari Orang Tua

Orang tuaku sama sekali tidak pernah bertanya kepadaku tentang kesulitan – kesulitan yang aku hadapi. Bahkan pencapaian – pencapaianku tidak pernah dihargai oleh kedua orang tuaku. Hatiku benar – benar terasa sakit saat mendengar kalimat tersebut.

Jujur aku menulis artikel ini bukan karna aku dendam pada kedua orang tuaku. Tetapi karna aku berusaha untuk mengurangi beban luka batin yang sudah terlalu lama ada didalam hatiku. Dan aku meluapkan semua bebanku itu didalam tulisan yang aku buat ini.

Minggu, 08 Maret 2026

Hikmah Yang Aku Dapat Dari Acara Buka Puasa Bersama Tahun 2026

Entah kenapa akhir – akhir ini aku merasa agak malas bila diajak untuk datang ke acara buka puasa bersama. Padahal sebelumnya aku senang sekali bila ada yang mengajakku untuk buka puasa bersama.

Hati tidak lagi merasa nyaman bila melakukan buka puasa bersama di tempat – tempat seperti itu. Juju raku harus melakukan effort lebih sekaligus meniatkan hati agar kakiku mau bergerak ke tempat acara.

Momen Buka Puasa Bersama Dengan Rekan - Rekan Kerja

Mungkin karna usiaku yang semakin bertambah aku jadi tidak lagi punya keinginan untuk mengikuti acara buka puasa bersama. Bagiku saat ini momen buka puasa lebih enak dilakukan dirumah atau di masjid bersama tetangga – tetangga.

Tetapi kali ini ajakan untuk hadir dalam acara buka puasa bersama datang dari atasan. Mau tidak mau atau suka tidak suka, Aku harus bersedia untuk memenuhi ajakan tersebut. Akhirnya aku pun berangkat menuju tempat acara menggunakan mobil.

Keputusan Sepele Tapi Krusial

Karena tempat acara yang cukup jauh, Maka aku memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta KRL. Tetapi seorang rekan kerja menawarkan tumpangan dengan menggunakan mobil menuju ke tempat acara.

Aku pun setuju untuk nebeng bersama mereka yang terdiri dari 7 orang termasuk diriku. Semua datang tepat waktu di titik kumpul lalu bergegas berangkat pada sore hari. Semua berjalan sesuai dengan rencana hingga keluar pintu tol.

Kondisi Macet Saat Menjelang Berbuka

Keadaan macet hingga membuat mobil yang kami tumpangi tidak bergerak sedikitpun. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5.17 WIB. Beruntung tempat acara buka puasa bersama itu tidak begitu jauh.

Hanya sekitar 1,5 km atau hanya tinggal beberapa menit bila ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tetapi karna macet yang parah, jarak itu terasa cukup jauh untuk ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Awalnya kami semua sabar dengan kemacetan yang terjadi, Sampai ada seseorang yang mengusulkan untuk jalan kaki saja. Setelah melakukan diskusi singkat, Maka 3 dari 7 orang di mobil memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan kaki.

Dan salah satu dari 3 orang yang berjalan kaki itu adalah aku. Kami bertiga berjalan kaki dengan hati yang cukup lega dan hati yang senang. Bahkan ditengah perjalan itu kami bertiga masih sempat berfoto.

Jalan Kaki Menuju Tempat Berbuka

Hingga pada akhirnya kami bertiga pun sampai tepat waktu di acara buka puasa bersama tersebut. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu adzan Magrib pun berkumandang. Kami bertiga pun menikmati hidangan yang sudah disediakan ditempat tersebut.

Sementara 4 orang teman kami yang masih bertahan dimobil. Hingga mereka semua akhirnya harus berbuka puasa dengan minuman dan makanan seadanya dijalan karna macet. Mereka berempat baru sampai ke tempat berbuka puasa pada sekitar pukul 18.40an. 

Janjian Ke Rumah Teman

Karna saat ini aku sudah tidak tinggal dikota tersebut, Maka aku memutuskan untuk bersilaturahmi dengan teman lama ku di kota tersebut. Aku berfikir kapan lagi aku bisa singgah dikota ini, Kalo bukan karna acara kantor.

Jadi aku pun menghubungi temanku tersebut, Tapi ternyata teman ku berhalangan untuk bertemu. Akhirnya kami tidak jadi bertemu, Dan aku pun mengambil Keputusan pulang dengan rute yang berbeda dari rekan kerjaku sebelumnya.

Jadi awalnya aku berangkat bersama dengan menggunakan mobil, Lalu pulangnya aku sendirian menggunakan kereta KRL. Acara buka puasa bersama berlangsung cukup lancar dengan makanan yang sangat enak.

Berjalan Sendirian Di Malam Hari

Aku pun makan dengan lahab hingga perut terasa sangat kenyang. Hingga waktu pulang pun tiba, Aku memutuskan untuk berpisah dengan 6 orang rekan kerjaku. Meskipun aku tidak jadi bertemu dengan teman lamaku di kota tersebut.

Aku tetap memutuskan pulang sendirian karna memang aku menginginkannya. Dan ternyata disinilah tantangan mulai muncul. Jam sibuk membuat aku sangat kesulitan mencari transportasi roda dua.

Karna terlalu lama aku menunggu dan waktu sudah semakin larut malam. Akhirnya aku memutuskan berjalan kaki menuju stasiun KRL terdekat. Jarak dari tempatku berdiri saat itu dengan stasiun KRL cukup jauh, Sekitar 6,4 Km.

Aku berjalan dengan kecepatan sedang ditengah kondisi hujan dan cuaca yang cukup dingin. Aku berjalan setapak demi setapak sambil sesekali kau berusaha mencari ojek untuk mengantarkan aku ke stasiun KRL terdekat.

Tetapi hal itu ternyata tidak mudah untuk dilakukan, Karna mungkin saat itu sedang jam sibuk. Akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali berjalan, Dan ditengah perjalanan inilah hatiku mulai merasa sangat jengkel.

Meluapkan Emosi Yang Tertahan

Entah kenapa saat itu pikiranku jadi melayang – layang secara liar. Luka batin itu muncul lagi saat aku sedang berjalan dimalam yang sudah larut. Aku berteriak dan memaki – maki masa laluku yang menjengkelkan dipinggir trotoar yang gelap dan sepi.

Seperti meluapkan semua emosi dan amarah yang selama ini tertahan. Ternyata situasi yang gelap dan sepi itu tidak membuatku takut sedikitpun. Aku malah menggunakan situasi itu untuk meluapkan semua kejengkelan yang ada dihatiku.

Kelelahan Mental Membuatnya Frustasi Dan Melampiaskannya Dengan Berteriak

Meskipun aku meluapkan amarahku, Aku tetap bersyukur karna setidaknya perutku dalam kondisi kenyang. Jadi bisa dibilang semua kalori yang aku makan saat berbuka itu langsung aku bakar dengan berjalan kaki.

Dan setelah berjalan cukup jauh dari tempatku berbuka puasa, Aku pun akhirnya bisa menemukan ojek. Dan ojek itu mengantarkan aku menuju ke stasiun KRL terdekat dengan lancar dimalam yang sudah sangat larut.

Hikmah Yang Aku Dapat Dari Acara Buka Puasa Bersama

Setelah berhasil sampai dirumah sekitar pukul 01.00 WIB, Aku langsung membersihkan diri dan bergegas untuk istirahat. Lalu keesokan harinya aku merenungi kejadian kemarin, Disitulah aku menemukan beberapa hikmah yang bisa aku dapat.

Berawal dari saat aku berangkat menuju tempat acara berbuka puasa. Aku dan 2 orang temanku yang lain memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat acara berbuka puasa. Karna memang jaraknya tidak terlalu jauh.

Istirahat Sambil Menenangkan Pikiran

Dan akhirnya aku dan 2 orang temanku berhasil sampai tepat waktu di tempat acara. Lalu setelah itu bisa menikmati hidangan yang sangat enak. Sedangkan 4 orang yang lainnya memilih untuk tetap didalam mobil.

Hingga akhirnya mereka berempat harus buka puasa didalam mobil dengan air dan makanan yang seadanya. Dari kejadian itu aku berfikir bahwa memang kita membutuhkan usaha extra untuk mencapai sesuatu dengan lebih cepat.

Lalu saat pulang, Aku memutuskan untuk berpisah jalan. Bisa dibilang ini adalah Keputusan yang kurang tepat. Karna ternyata aku harus mengeluarkan effort yang cukup melelahkan. Sebenarnya itu tidak masalah bagiku.

Tetapi bila Keputusan itu aku ambil saat bersama dengan istriku. Maka pilihan itu menjadi pilihan yang sangat buruk. Aku tidak bisa membayangkan bila saat itu aku harus berjalan cukup jauh bersama dengan istriku untuk menuju stasiun KRL terdekat.

Tertidur Setelah Kelelahan 

Ditengah kondisi trotoar jalan yang sepi dan lumayan gelap. Ditambah lagi dengan cuaca yang cukup dingin karna baru saja terjadi hujan lebat. Mungkin aku masih bisa melakukannya sendirian, Tetapi istriku tidak mungkin aku tega melakukannya.

Dari sini aku belajar untuk berfikir secara matang sebelum memutuskan sebuah pilihan. Jangan jadi orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Karna Keputusan yang aku ambil akan berdampak pada istriku dimasa yang akan datang.

Senin, 26 Januari 2026

Keputusan Berat Untuk Menjauh Dari Orang Tua

Sudah hampir 1 tahun ini aku memutuskan untuk menjauh dan menjaga jarak dengan kedua orang tuaku. Aku melakukannya bukan untuk memutuskan hubungan dengan keduanya, Tetapi hanya sekedar menjaga jarak aman untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku selalu berharap agar kedua orang tuaku tidak terluka dengan Keputusan yang sudah aku ambil. Jujur sebenarnya aku tidak mau melakukannya, Tetapi sepertinya aku harus melakukan ini untuk Kesehatan mental dan ketenangan jiwaku.

Semoga Jiwaku Bisa Seluas Lautan

Sudah cukup selama ini aku menahan tekanan dari nasehat – nasehat kedua orang tuaku yang sepertinya menyudutkan posisiku sebagai anak. Awalnya memang aku bisa menahan semuanya sendirian, Tetapi seiring berjalannya waktu aku merasa sangat tersiksa.

Sampai pada lebaran tahun 2025 kemarin aku merasa sangat tidak kuat dengan penghakiman dari kedua orang tuaku. Tentu saja penghakiman ini berbalut dengan nasehat – nasehat yang halus, Tetapi itu cukup menusuk jauh kedalam hatiku.

Momen Lebaran Tahun 2025

Pada tahun 2025 saat menjelang lebaran aku masih bekerja menjadi freelance disebuah Perusahaan, Dimana pada saat itu gajiku ditahan karna suatu alasan. Meskipun pada akhirnya gaji dan bonusku cair, Tetapi itu terjadi jauh setelah lebaran.

Jadi singkatnya, Saat lebaran aku sama sekali tidak gajian. Disaat yang lainnya bisa tersenyum karna THR dan gaji sudah cair, Aku hanya bisa terdiam menahan rasa kecewa. Suasana kumpul keluarga pun tidak terlalu menyenangkan bagiku saat itu.

Berusaha Tetap Tabah Dan Lapang Dada

Dan dimomen itulah bukannya menghibur hatiku yang sedang dongkol, Ayahku malah berkata “Kamu kurang kerja keras, Makanya bekerjalah dengan lebih keras”. Memang itu terdengar seperti nasehat yang baik.

Tetapi entah kenapa bagiku itu terdengar seperti sebuah penghakiman yang menyakitkan. Aku sudah bekerja tanpa ada libur dan berusaha menghasilkan kinerja terbaik yang aku bisa. Tetapi tanpa mengetahui apa – apa Ayahku malah berkata demikian.

Bagiku tertahannya bonus saat itu merupakan hal yang menyakitkan. Tetapi perkataan dari ayahku saat itu ternyata jauh lebih meyakitkan lagi. Saking menyakitkannya, Aku sampai tidak lagi berharap untuk mendapatkan bonus tersebut. 

Tetap Kuat Seperti Batu Karang

Dan sejak saat itulah muncul perasaan kecewa yang mendalam pada kedua orang tuaku. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk dinasehati, Tetapi setidaknya dengarkanlah keluh kesahku terlebih dahulu sebelum menasehatiku.

Perasaan kecewa itulah yang membuat aku memutuskan untuk mengambil sebuah Keputusan yang berat. Dan Keputusan itu adalah menjauh dari kedua orang tuaku. Setidaknya aku mengambil Keputusan ini untuk kebaikan Kesehatan mentalku.

Hati Yang Hancur

Jujur ketika ayahku mengatakan itu, Mental dan hatiku sangat hancur. Aku benar – benar menangis didalam hatiku. Tentu saja hal ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, Tetapi sering sekali terjadi didalam hidupku.

Mereka sudah melakukan hal itu sejak aku masih kecil. Mereka tidak pernah mau mendengar keluh kesahku sama sekali. Walaupun ada beberapa keluh kesahku yang didengar, Tetapi pada akhirnya hanya ada penghakiman bagiku.

Berusaha Menikmati Kehidupan Melalui Alam

Sampai pada akhirnya aku menyerah dan tidak pernah lagi berharap agar kedua orang tuaku mendengar cerita – ceritaku. Aku lebih memilih untuk memendam semua hal sendirian, Tidak peduli itu adalah hal yang menyenangkan atau menyedihkan.

Apakah Aku Anak Yang Durhaka ?

Awalnya aku sempat berfikir bahwa aku adalah anak yang durhaka. Tetapi faktanya aku tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang anak. Aku selalu mendoakan kedua orang tuaku dengan Ikhlas setelah sesesai menunaikan solat.

Aku selalu berharap agar kedua orang tuaku selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Aku selalu mendoakan yang baik – baik untuk kedua orang tuaku. Aku juga berharap bahwa suatu saat kedua orang tuaku sadar dan merubah sifatnya pada ku.

Tetap Tenang Seperti Hutan

Dan ditengah keterbatasan yang aku miliki saat ini, Istriku selalu berusaha untuk menyisihkan Sebagian rejeki keluarga kecil ku ini untuk memberikan hadiah pada kedua orang tuaku. Hal itu dilakukan agar hati kedua orang tuaku merasa senang.

Meskipun sering kali aku tidak terlalu bersemangat dalam hal tersebut. Tetapi itu bukan disebabkan oleh kurangnya perasaan Ikhlas. Melainkan karna tenaga yang sudah sangat terkuras untuk menjaga diri ini tetap waras.

Bisa dibilang aku memang tidak hadir secara fisik, Tetapi aku selalu berusaha untuk terus menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuaku. Disini aku hanya menjauh dan menjaga jarak dengan kedua orang tuaku agar hatiku tidak merasa tersiksa dan tertekan.

Sabtu, 17 Januari 2026

Disalahkan Dan Dipaksa Minta Maaf

Tahun memang baru saja berganti, Keinginan dan harapan baru saja diucapkan dari mulut. Tetapi bayangan dari masa lalu Kembali muncul dan menghantui pikiranku. Ingatan tentang Potongan – potongan peristiwa dimasa kecil.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ingin aku ingat, Bahkan dikenang. Hal – hal seperti itulah yang sering menghantui pikiran hingga perasaanku selama tahun 2025 kemarin. Peristiwa Dimana aku selalu disalahkan dan diabaikan oleh orang tuaku sendiri.

Suasana Untuk Mengobati Rasa Sakit Hati

Sulit sekali hidup dengan membawa luka batin dimasa kecil. Aku selalu berusaha untuk berdamai dengan luka batinku sendiri. Tetapi ternyata hal itu tidak semudah yang dibayangkan, perang dengan pikirannya sendiri.

Mungkin itulah yang terjadi pada diriku saat ini, Luka batin yang sering muncul tiba – tiba tanpa sebab yang jelas. Membuat perasaan kecewa dan kesal bercampur didalam hatiku. Setelah itu pekerjaanku menjadi terganggu.

Sebenarnya ada banyak ingatan yang menyakitkan muncul didalam pikiranku. Dan saat ini yang muncul diingatan ku adalah ketika aku dipersalahkan tanpa alasan yang jelas. Lalu ayahku yang melihat persitiwa itu sama sekali tidak membelaku. 

Jadi saat itu aku masih berusia sekitar 5 atau 6 tahun dan sedang berada dirumah saudara dari ibuku. Pada masa itu saudara dari ibuku ini cukup kaya raya, Jadi memiliki rumah dan halaman yang sangat luas.

Alam Yang Membuat Hatiku Tenang

Jadi tidak heran bila saudara dari ibuku ini memiliki beberapa mobil dan beberapa ekor kucing sebagai hewan peliharaannya. Dan peristiwa itu terjadi disiang hari, Aku asik menonton film kartun diruang keluarga.

Kebetulan posisi ruang keluarga tempat aku menonton TV bersebelahan dengan ruang makan. Dimana diruangan tersebut terdapat meja makan yang cukup lebar dengan bangku yang cukup mewah dimasa itu.

Seperti layaknya anak kecil pada umumnya, mataku begitu fokus menonton film kartun yang disiarkan melalui TV. Saking fokusnya, Aku sama sekali tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai peristiwa yang terjadi disekitarku.

Meski begitu sekilas aku sempat menoleh kearah belakang dan melihat ada beberapa ekor kucing yang naik ke meja makan. Kucing – kucing tersebut terlihat sedang memakan sesuatu dari diatas meja makan.

Aku tidak terlalu peduli pada kucing – kucing tersebut, Karna memang aku sedang fokus pada film kartun yang sedang aku tonton. Lalu tidak lama setelah itu kakak sepupu ku jalan dari kamarnya ke ruang makan.

Momen Itu Terkadang Muncul Dalam Ingatan Saat Makan

Disitu dia bertanya “Lho kok ikannya abis ?”, Aku yang mendengar kata – kata itu pun berfikir sejenak dan menyadari sesuatu. Ternyata yang dimakan oleh kucing – kucing barusan adalah seekor ikan.

Mengetahui fakta tersebut, Aku pun menoleh sambil berkata “iya kak tadi ikannya dimakan kucing”. Aku berfikir bahwa fakta itu mungkin akan menyenangkan hatinya. Tetapi ternyata aku salah besar.

Kakak sepupuku murka saat mengetahui fakta tersebut, Tanpa pikir Panjang dia langsung memarahiku dengan nada membentak. Dia berkata “Kalo kamu liat dimakan kucing, Kenapa kucingnya gak diusir ?!”.

Aku yang bingung pun tidak terlalu mengambil pusing, dan hanya diam sambil menonton film kartun di TV. Karna merasa kesal, Kakak sepupuku Kembali berjalan ke kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal.

Ternyata peristiwa itu dilihat oleh ayahku yang kebetulan sedang duduk Santai di ruang tamu. Dia menghampiri ku dan berkata “Kamu harus minta maaf pada kakak sepupumu”. Aku pun bingung, Kenapa aku yang dipersalahkan ?

Ingin Rasanya Aku Keluar Dari Momen Itu

Aku hanya sedang menonton kartun di TV, Dan kucing – kucing yang memakan ikan tadi juga bukan kucing sembarangan. Kucing – kucing itu adalah hewan peliharaan kakak sepupuku yang sudah dia rawat sejak masih kecil. Jadi apakah itu benar – benar menjadi salahku ?

Karna saat itu aku masih kecil, Jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Dan aku pun menurut pada ayahku untuk meminta maaf kepada kakak sepupuku. Beruntung, Respon dari kakak sepupuku begitu hangat menyambut permintaan maafku.

Terus terang, wajah dari kakak sepupuku saat itu masih aku ingat hingga hari ini. Dia tersenyum lebar sambil bertaka “Gpp kok, Maaf ya tadi udah marah - marah”. Semula aku memang sedikit takut karna sudah dimarahi, Tetapi responnya yang hangat membuat hatiku terasa hangat.

Senin, 12 Januari 2026

Luka Dan Perang Batin Yang Tidak Terlihat

Suatu ketika aku melamun disebuah tempat sambil menikmati secangkir kopi hangat tanpa gula. Suasananya begitu ramai, Jadi aku banyak melihat manusia yang berlalu Lalang. Aku tidak tahu dari mana dan tujuan mereka.

Tapi dalam lamunan itu aku sempat penasaran dengan tentang apa yang ada dipikiran mereka. Sekaligus apa yang membuat mereka bisa datang ke tempat Dimana aku sedang melamun. Hingga aku menyimpulkan sebuah hal tentang mereka.

Menikmati Suasana Tenang Dengan Pikiran Yang Sedang Berperang

Dan itu adalah “Setiap orang membawa luka dan perang batin yang tidak terlihat”. Hal itu bisa terfikir dikepala ku karna aku sendiri juga memiliki luka dan perang batin sendiri. Itulah yang membuat aku datang ketempat tersebut.

Dan tentu saja alasan itu tidak diketahui oleh manusia – manusia yang sedang berlalu Lalang tadi. Jadi aku berfikir bahwa kemungkinan besar, manusia – manusia yang sedang berlalu Lalang ini juga memiliki luka dan perang batinnya masing – masing.

Dari lamunan itu aku menyadari bahwa aku bukan satu – satunya orang yang sedang berjuang untuk menyembuhkan hati yang sedang terluka karna adanya perang batin. Banyak orang juga sedang berada difase yang sama denganku.

Tentu saja setiap individu memiliki masalah yang jenis lukanya sendiri – sendiri. Tergantung dengan apa yang dia alami dan dari mana dia berasal. Mungkin masalah mereka jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan diriku.

Terus Berusaha Untuk Menyalakan Api Semangat Di Dalam Hati

Tetapi mereka tetap berusaha untuk terus berjuang mencari Solusi. Hal itu dilakukan agar mereka bisa sembuh dari luka sekaligus memenangkan perang batin yang ada dihatinya. Tentu menyerah bukanlah sebuah pilihan bagi mereka.

Disini aku belajar tentang rasa Syukur dan menyadari bahwa aku bukanlah satu – satunya orang yang sedang berjuang. Intinya lakukanlah apa yang membuat hati kita bahagia, Selama kita tidak menganggu ketenangan dan kepentingan orang lain.

Siapa yang menyangka bahwa menikmati kopi disebuah tempat terbuka bisa membuat aku sangat bersyukur. Dan aku bisa mendapatkan sebuah Kesimpulan baru tentang kehidupan yang sedang aku Jalani hari ini.

Selasa, 06 Januari 2026

Pertarungan Tahun 2025 Dan Harapan Tahun 2026

Tahun sudah berganti dari 2025 menjadi 2026, Banyak orang yang merayakan pergantian tahun ini bersama dengan kerabat atau teman. Mereka bergembira dan menikmati acara perayaan pergantian tahun tersebut.

Tetapi dimomen yang sama, Entah kenapa aku tidak merasakan kegembiraan apapun. Bahkan aku malah ingin melewati malam pergantian tahun ini seperti malam – malam biasa. Tidur cepat lalu terbangun dipagi hari dan Bersiap untuk aktivitas selanjutnya.

Berdiam Sendirian Ditempat Yang Tenang

Aku hanya berfikir ada banyak pertarungan berat yang sudah aku lewati di tahun 2025. Dan pertarungan itu adalah melawan diri sendiri, Atau bisa dibilang melawan luka batinku. Sebuah luka yang sudah sangat lama aku pendam didalam hati.

Jadi bisa dibilang, Tahun 2025 adalah tahun Dimana aku bertarung habis – habisan dengan luka batinku sendiri. Aku masih belum tahu apakah pertarungan yang berat ini akan terus berlanjut di tahun 2026, Atau tidak.

Berusaha Untuk Sembuh Dari Luka Batin

Aku selalu berusaha untuk sembuh dari luka batin yang aku derita. Walaupun hal itu membuat aku menjadi lebih sensitive dan emosiku menjadi tidak stabil. Ditambah lagi aku juga bingung untuk melampiaskan kemarahanku tersebut.

Aku juga tidak ingin menumpahkan kemarahanku ini kepada orang lain. Karna menurutku hal itu sama saja dengan kedua orang tuaku yang menjadi penyebab utama dari penderitaan ku selama ini. Jujur aku ingin menyembuhkan luka batin ini secara total dengan cara yang baik dan benar.

Setiap pagi aku sering melakukan olahraga fisik, Mulai dari lari pagi, Crossfit, dan Workout. Aku berusaha untuk membuat tubuhku Lelah dan berkeringat dipagi hari. Memang itu tidak membuatku sembuh dari luka batin, Tetapi setidaknya Moodku terasa lebih baik.

Berusaha Menikmati Momen Yang Sederhana

Hanya cara itu yang bisa aku lakukan selain bersyukur dengan semua nikmat yang sudah aku miliki. Selebihnya, Aku hanya bisa diam sambil menyendiri dan menghindari interaksi dengan orang – orang yang mungkin akan menegurku.

Tanpa disadari aku ternyata lebih banyak menarik diri dari beberapa kegiatan social. Seperti kumpul – kumpul bersama teman, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Aku juga sudah beberapa bulan ini menghindari interaksi dengan kedua orang tuaku.

Aku tidak tau apakah ini merupakan tindakan yang benar atau salah. Tetapi kebiasaan ini ternyata terasa lebih nyaman dihatiku. Duduk menyendiri sambil ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan manis.

Disitu aku mulai termenung melihat kopi dan cemilanku sambil berifiki tentang kehidupan yang sedang aku Jalani ini. Lalu muncul pertanyaan dikepala “Sampai kapan aku harus bertarung dengan luka batin ini ?”.

Keinginan Di Tahun 2026

Jujur ditahun yang baru ini aku tidak memiliki keinginan yang berlebihan. Ingin lebih rajin melakukan olahraga dipagi hari, Seperti memulai lari pagi lebih awal dan lebih lama. Begitu juga dengan Workout.

Aku ingin melakukan aktivitas itu dengan lebih energik, Agar lebih banyak kalori sekaligus racun yang terbuang dari tubuhku. Lalu aku juga ingin fokus untuk belajar dan bisa membaca peluang yang ada.

Mencoba Fokus Untuk Memperbaiki Diri Sendiri

Selain itu aku juga ingin bersikap lebih sabar dan mampu menstabilkan emosi yang ditimbulkan dari perasaan luka batin. Jujur ini adalah hal yang tersulit bagiku, Karna luka ini sudah aku pendam selama lebih dari 10 tahun.

Harapan Di Tahun 2026

Bila ditanya harapan, Tentu saja hal itu adalah bisa sembuh dari luka batin yang sering mengangguku selama tahun 2025. Jujur hal itu sangat menganggu kehidupanku, Dan itu sangat mempengaruhi sikap dan cara pandangku pada sesuatu.

Bahkan ada banyak sekali kesempatan yang harus terlewat karna pengaruh dari luka batin tersebut. Tentu ditahun 2026 ini aku tidak mau mengulai kesalahan tersebut. Aku harus bisa lebih berani dan tidak ragu – ragu lagi.

Menumbuhkan Semangat Untuk Berjuang

Lalu berani mengatakan TIDAK dengan tegas, Bila memang itu sangat tidak adil bagi diriku. Dan aku harus bisa lebih menghargai diri sendiri. Aku mampu dan aku bisa melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik dibandingkan yang lain. Kenapa ?

Karna aku sudah berlatih dan belajar lebih keras dibandingkan yang lain. Jadi aku layak mendapatkan hasil yang lebih dibandingkan orang lain. Itulah harapan yang ingin aku capai ditahun 2026, Sederhana tetapi cukup membuatku bahagia.