Senin, 26 Januari 2026

Keputusan Berat Untuk Menjauh Dari Orang Tua

Sudah hampir 1 tahun ini aku memutuskan untuk menjauh dan menjaga jarak dengan kedua orang tuaku. Aku melakukannya bukan untuk memutuskan hubungan dengan keduanya, Tetapi hanya sekedar menjaga jarak aman untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku selalu berharap agar kedua orang tuaku tidak terluka dengan Keputusan yang sudah aku ambil. Jujur sebenarnya aku tidak mau melakukannya, Tetapi sepertinya aku harus melakukan ini untuk Kesehatan mental dan ketenangan jiwaku.

Semoga Jiwaku Bisa Seluas Lautan

Sudah cukup selama ini aku menahan tekanan dari nasehat – nasehat kedua orang tuaku yang sepertinya menyudutkan posisiku sebagai anak. Awalnya memang aku bisa menahan semuanya sendirian, Tetapi seiring berjalannya waktu aku merasa sangat tersiksa.

Sampai pada lebaran tahun 2025 kemarin aku merasa sangat tidak kuat dengan penghakiman dari kedua orang tuaku. Tentu saja penghakiman ini berbalut dengan nasehat – nasehat yang halus, Tetapi itu cukup menusuk jauh kedalam hatiku.

Momen Lebaran Tahun 2025

Pada tahun 2025 saat menjelang lebaran aku masih bekerja menjadi freelance disebuah Perusahaan, Dimana pada saat itu gajiku ditahan karna suatu alasan. Meskipun pada akhirnya gaji dan bonusku cair, Tetapi itu terjadi jauh setelah lebaran.

Jadi singkatnya, Saat lebaran aku sama sekali tidak gajian. Disaat yang lainnya bisa tersenyum karna THR dan gaji sudah cair, Aku hanya bisa terdiam menahan rasa kecewa. Suasana kumpul keluarga pun tidak terlalu menyenangkan bagiku saat itu.

Berusaha Tetap Tabah Dan Lapang Dada

Dan dimomen itulah bukannya menghibur hatiku yang sedang dongkol, Ayahku malah berkata “Kamu kurang kerja keras, Makanya bekerjalah dengan lebih keras”. Memang itu terdengar seperti nasehat yang baik.

Tetapi entah kenapa bagiku itu terdengar seperti sebuah penghakiman yang menyakitkan. Aku sudah bekerja tanpa ada libur dan berusaha menghasilkan kinerja terbaik yang aku bisa. Tetapi tanpa mengetahui apa – apa Ayahku malah berkata demikian.

Bagiku tertahannya bonus saat itu merupakan hal yang menyakitkan. Tetapi perkataan dari ayahku saat itu ternyata jauh lebih meyakitkan lagi. Saking menyakitkannya, Aku sampai tidak lagi berharap untuk mendapatkan bonus tersebut. 

Tetap Kuat Seperti Batu Karang

Dan sejak saat itulah muncul perasaan kecewa yang mendalam pada kedua orang tuaku. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk dinasehati, Tetapi setidaknya dengarkanlah keluh kesahku terlebih dahulu sebelum menasehatiku.

Perasaan kecewa itulah yang membuat aku memutuskan untuk mengambil sebuah Keputusan yang berat. Dan Keputusan itu adalah menjauh dari kedua orang tuaku. Setidaknya aku mengambil Keputusan ini untuk kebaikan Kesehatan mentalku.

Hati Yang Hancur

Jujur ketika ayahku mengatakan itu, Mental dan hatiku sangat hancur. Aku benar – benar menangis didalam hatiku. Tentu saja hal ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, Tetapi sering sekali terjadi didalam hidupku.

Mereka sudah melakukan hal itu sejak aku masih kecil. Mereka tidak pernah mau mendengar keluh kesahku sama sekali. Walaupun ada beberapa keluh kesahku yang didengar, Tetapi pada akhirnya hanya ada penghakiman bagiku.

Berusaha Menikmati Kehidupan Melalui Alam

Sampai pada akhirnya aku menyerah dan tidak pernah lagi berharap agar kedua orang tuaku mendengar cerita – ceritaku. Aku lebih memilih untuk memendam semua hal sendirian, Tidak peduli itu adalah hal yang menyenangkan atau menyedihkan.

Apakah Aku Anak Yang Durhaka ?

Awalnya aku sempat berfikir bahwa aku adalah anak yang durhaka. Tetapi faktanya aku tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang anak. Aku selalu mendoakan kedua orang tuaku dengan Ikhlas setelah sesesai menunaikan solat.

Aku selalu berharap agar kedua orang tuaku selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Aku selalu mendoakan yang baik – baik untuk kedua orang tuaku. Aku juga berharap bahwa suatu saat kedua orang tuaku sadar dan merubah sifatnya pada ku.

Tetap Tenang Seperti Hutan

Dan ditengah keterbatasan yang aku miliki saat ini, Istriku selalu berusaha untuk menyisihkan Sebagian rejeki keluarga kecil ku ini untuk memberikan hadiah pada kedua orang tuaku. Hal itu dilakukan agar hati kedua orang tuaku merasa senang.

Meskipun sering kali aku tidak terlalu bersemangat dalam hal tersebut. Tetapi itu bukan disebabkan oleh kurangnya perasaan Ikhlas. Melainkan karna tenaga yang sudah sangat terkuras untuk menjaga diri ini tetap waras.

Bisa dibilang aku memang tidak hadir secara fisik, Tetapi aku selalu berusaha untuk terus menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuaku. Disini aku hanya menjauh dan menjaga jarak dengan kedua orang tuaku agar hatiku tidak merasa tersiksa dan tertekan.

Sabtu, 17 Januari 2026

Disalahkan Dan Dipaksa Minta Maaf

Tahun memang baru saja berganti, Keinginan dan harapan baru saja diucapkan dari mulut. Tetapi bayangan dari masa lalu Kembali muncul dan menghantui pikiranku. Ingatan tentang Potongan – potongan peristiwa dimasa kecil.

Peristiwa yang sebenarnya tidak ingin aku ingat, Bahkan dikenang. Hal – hal seperti itulah yang sering menghantui pikiran hingga perasaanku selama tahun 2025 kemarin. Peristiwa Dimana aku selalu disalahkan dan diabaikan oleh orang tuaku sendiri.

Suasana Untuk Mengobati Rasa Sakit Hati

Sulit sekali hidup dengan membawa luka batin dimasa kecil. Aku selalu berusaha untuk berdamai dengan luka batinku sendiri. Tetapi ternyata hal itu tidak semudah yang dibayangkan, perang dengan pikirannya sendiri.

Mungkin itulah yang terjadi pada diriku saat ini, Luka batin yang sering muncul tiba – tiba tanpa sebab yang jelas. Membuat perasaan kecewa dan kesal bercampur didalam hatiku. Setelah itu pekerjaanku menjadi terganggu.

Sebenarnya ada banyak ingatan yang menyakitkan muncul didalam pikiranku. Dan saat ini yang muncul diingatan ku adalah ketika aku dipersalahkan tanpa alasan yang jelas. Lalu ayahku yang melihat persitiwa itu sama sekali tidak membelaku. 

Jadi saat itu aku masih berusia sekitar 5 atau 6 tahun dan sedang berada dirumah saudara dari ibuku. Pada masa itu saudara dari ibuku ini cukup kaya raya, Jadi memiliki rumah dan halaman yang sangat luas.

Alam Yang Membuat Hatiku Tenang

Jadi tidak heran bila saudara dari ibuku ini memiliki beberapa mobil dan beberapa ekor kucing sebagai hewan peliharaannya. Dan peristiwa itu terjadi disiang hari, Aku asik menonton film kartun diruang keluarga.

Kebetulan posisi ruang keluarga tempat aku menonton TV bersebelahan dengan ruang makan. Dimana diruangan tersebut terdapat meja makan yang cukup lebar dengan bangku yang cukup mewah dimasa itu.

Seperti layaknya anak kecil pada umumnya, mataku begitu fokus menonton film kartun yang disiarkan melalui TV. Saking fokusnya, Aku sama sekali tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai peristiwa yang terjadi disekitarku.

Meski begitu sekilas aku sempat menoleh kearah belakang dan melihat ada beberapa ekor kucing yang naik ke meja makan. Kucing – kucing tersebut terlihat sedang memakan sesuatu dari diatas meja makan.

Aku tidak terlalu peduli pada kucing – kucing tersebut, Karna memang aku sedang fokus pada film kartun yang sedang aku tonton. Lalu tidak lama setelah itu kakak sepupu ku jalan dari kamarnya ke ruang makan.

Momen Itu Terkadang Muncul Dalam Ingatan Saat Makan

Disitu dia bertanya “Lho kok ikannya abis ?”, Aku yang mendengar kata – kata itu pun berfikir sejenak dan menyadari sesuatu. Ternyata yang dimakan oleh kucing – kucing barusan adalah seekor ikan.

Mengetahui fakta tersebut, Aku pun menoleh sambil berkata “iya kak tadi ikannya dimakan kucing”. Aku berfikir bahwa fakta itu mungkin akan menyenangkan hatinya. Tetapi ternyata aku salah besar.

Kakak sepupuku murka saat mengetahui fakta tersebut, Tanpa pikir Panjang dia langsung memarahiku dengan nada membentak. Dia berkata “Kalo kamu liat dimakan kucing, Kenapa kucingnya gak diusir ?!”.

Aku yang bingung pun tidak terlalu mengambil pusing, dan hanya diam sambil menonton film kartun di TV. Karna merasa kesal, Kakak sepupuku Kembali berjalan ke kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal.

Ternyata peristiwa itu dilihat oleh ayahku yang kebetulan sedang duduk Santai di ruang tamu. Dia menghampiri ku dan berkata “Kamu harus minta maaf pada kakak sepupumu”. Aku pun bingung, Kenapa aku yang dipersalahkan ?

Ingin Rasanya Aku Keluar Dari Momen Itu

Aku hanya sedang menonton kartun di TV, Dan kucing – kucing yang memakan ikan tadi juga bukan kucing sembarangan. Kucing – kucing itu adalah hewan peliharaan kakak sepupuku yang sudah dia rawat sejak masih kecil. Jadi apakah itu benar – benar menjadi salahku ?

Karna saat itu aku masih kecil, Jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Dan aku pun menurut pada ayahku untuk meminta maaf kepada kakak sepupuku. Beruntung, Respon dari kakak sepupuku begitu hangat menyambut permintaan maafku.

Terus terang, wajah dari kakak sepupuku saat itu masih aku ingat hingga hari ini. Dia tersenyum lebar sambil bertaka “Gpp kok, Maaf ya tadi udah marah - marah”. Semula aku memang sedikit takut karna sudah dimarahi, Tetapi responnya yang hangat membuat hatiku terasa hangat.

Senin, 12 Januari 2026

Luka Dan Perang Batin Yang Tidak Terlihat

Suatu ketika aku melamun disebuah tempat sambil menikmati secangkir kopi hangat tanpa gula. Suasananya begitu ramai, Jadi aku banyak melihat manusia yang berlalu Lalang. Aku tidak tahu dari mana dan tujuan mereka.

Tapi dalam lamunan itu aku sempat penasaran dengan tentang apa yang ada dipikiran mereka. Sekaligus apa yang membuat mereka bisa datang ke tempat Dimana aku sedang melamun. Hingga aku menyimpulkan sebuah hal tentang mereka.

Menikmati Suasana Tenang Dengan Pikiran Yang Sedang Berperang

Dan itu adalah “Setiap orang membawa luka dan perang batin yang tidak terlihat”. Hal itu bisa terfikir dikepala ku karna aku sendiri juga memiliki luka dan perang batin sendiri. Itulah yang membuat aku datang ketempat tersebut.

Dan tentu saja alasan itu tidak diketahui oleh manusia – manusia yang sedang berlalu Lalang tadi. Jadi aku berfikir bahwa kemungkinan besar, manusia – manusia yang sedang berlalu Lalang ini juga memiliki luka dan perang batinnya masing – masing.

Dari lamunan itu aku menyadari bahwa aku bukan satu – satunya orang yang sedang berjuang untuk menyembuhkan hati yang sedang terluka karna adanya perang batin. Banyak orang juga sedang berada difase yang sama denganku.

Tentu saja setiap individu memiliki masalah yang jenis lukanya sendiri – sendiri. Tergantung dengan apa yang dia alami dan dari mana dia berasal. Mungkin masalah mereka jauh lebih besar dan lebih berat dibandingkan diriku.

Terus Berusaha Untuk Menyalakan Api Semangat Di Dalam Hati

Tetapi mereka tetap berusaha untuk terus berjuang mencari Solusi. Hal itu dilakukan agar mereka bisa sembuh dari luka sekaligus memenangkan perang batin yang ada dihatinya. Tentu menyerah bukanlah sebuah pilihan bagi mereka.

Disini aku belajar tentang rasa Syukur dan menyadari bahwa aku bukanlah satu – satunya orang yang sedang berjuang. Intinya lakukanlah apa yang membuat hati kita bahagia, Selama kita tidak menganggu ketenangan dan kepentingan orang lain.

Siapa yang menyangka bahwa menikmati kopi disebuah tempat terbuka bisa membuat aku sangat bersyukur. Dan aku bisa mendapatkan sebuah Kesimpulan baru tentang kehidupan yang sedang aku Jalani hari ini.

Selasa, 06 Januari 2026

Pertarungan Tahun 2025 Dan Harapan Tahun 2026

Tahun sudah berganti dari 2025 menjadi 2026, Banyak orang yang merayakan pergantian tahun ini bersama dengan kerabat atau teman. Mereka bergembira dan menikmati acara perayaan pergantian tahun tersebut.

Tetapi dimomen yang sama, Entah kenapa aku tidak merasakan kegembiraan apapun. Bahkan aku malah ingin melewati malam pergantian tahun ini seperti malam – malam biasa. Tidur cepat lalu terbangun dipagi hari dan Bersiap untuk aktivitas selanjutnya.

Berdiam Sendirian Ditempat Yang Tenang

Aku hanya berfikir ada banyak pertarungan berat yang sudah aku lewati di tahun 2025. Dan pertarungan itu adalah melawan diri sendiri, Atau bisa dibilang melawan luka batinku. Sebuah luka yang sudah sangat lama aku pendam didalam hati.

Jadi bisa dibilang, Tahun 2025 adalah tahun Dimana aku bertarung habis – habisan dengan luka batinku sendiri. Aku masih belum tahu apakah pertarungan yang berat ini akan terus berlanjut di tahun 2026, Atau tidak.

Berusaha Untuk Sembuh Dari Luka Batin

Aku selalu berusaha untuk sembuh dari luka batin yang aku derita. Walaupun hal itu membuat aku menjadi lebih sensitive dan emosiku menjadi tidak stabil. Ditambah lagi aku juga bingung untuk melampiaskan kemarahanku tersebut.

Aku juga tidak ingin menumpahkan kemarahanku ini kepada orang lain. Karna menurutku hal itu sama saja dengan kedua orang tuaku yang menjadi penyebab utama dari penderitaan ku selama ini. Jujur aku ingin menyembuhkan luka batin ini secara total dengan cara yang baik dan benar.

Setiap pagi aku sering melakukan olahraga fisik, Mulai dari lari pagi, Crossfit, dan Workout. Aku berusaha untuk membuat tubuhku Lelah dan berkeringat dipagi hari. Memang itu tidak membuatku sembuh dari luka batin, Tetapi setidaknya Moodku terasa lebih baik.

Berusaha Menikmati Momen Yang Sederhana

Hanya cara itu yang bisa aku lakukan selain bersyukur dengan semua nikmat yang sudah aku miliki. Selebihnya, Aku hanya bisa diam sambil menyendiri dan menghindari interaksi dengan orang – orang yang mungkin akan menegurku.

Tanpa disadari aku ternyata lebih banyak menarik diri dari beberapa kegiatan social. Seperti kumpul – kumpul bersama teman, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Aku juga sudah beberapa bulan ini menghindari interaksi dengan kedua orang tuaku.

Aku tidak tau apakah ini merupakan tindakan yang benar atau salah. Tetapi kebiasaan ini ternyata terasa lebih nyaman dihatiku. Duduk menyendiri sambil ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan manis.

Disitu aku mulai termenung melihat kopi dan cemilanku sambil berifiki tentang kehidupan yang sedang aku Jalani ini. Lalu muncul pertanyaan dikepala “Sampai kapan aku harus bertarung dengan luka batin ini ?”.

Keinginan Di Tahun 2026

Jujur ditahun yang baru ini aku tidak memiliki keinginan yang berlebihan. Ingin lebih rajin melakukan olahraga dipagi hari, Seperti memulai lari pagi lebih awal dan lebih lama. Begitu juga dengan Workout.

Aku ingin melakukan aktivitas itu dengan lebih energik, Agar lebih banyak kalori sekaligus racun yang terbuang dari tubuhku. Lalu aku juga ingin fokus untuk belajar dan bisa membaca peluang yang ada.

Mencoba Fokus Untuk Memperbaiki Diri Sendiri

Selain itu aku juga ingin bersikap lebih sabar dan mampu menstabilkan emosi yang ditimbulkan dari perasaan luka batin. Jujur ini adalah hal yang tersulit bagiku, Karna luka ini sudah aku pendam selama lebih dari 10 tahun.

Harapan Di Tahun 2026

Bila ditanya harapan, Tentu saja hal itu adalah bisa sembuh dari luka batin yang sering mengangguku selama tahun 2025. Jujur hal itu sangat menganggu kehidupanku, Dan itu sangat mempengaruhi sikap dan cara pandangku pada sesuatu.

Bahkan ada banyak sekali kesempatan yang harus terlewat karna pengaruh dari luka batin tersebut. Tentu ditahun 2026 ini aku tidak mau mengulai kesalahan tersebut. Aku harus bisa lebih berani dan tidak ragu – ragu lagi.

Menumbuhkan Semangat Untuk Berjuang

Lalu berani mengatakan TIDAK dengan tegas, Bila memang itu sangat tidak adil bagi diriku. Dan aku harus bisa lebih menghargai diri sendiri. Aku mampu dan aku bisa melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik dibandingkan yang lain. Kenapa ?

Karna aku sudah berlatih dan belajar lebih keras dibandingkan yang lain. Jadi aku layak mendapatkan hasil yang lebih dibandingkan orang lain. Itulah harapan yang ingin aku capai ditahun 2026, Sederhana tetapi cukup membuatku bahagia.