Sabtu, 28 Maret 2026

Kalau Orang Lain Bisa, Maka Kamu Juga Harus Bisa

Lagi enak – enak menikmati suasana pagi yang sejuk, Pikiranku melayang kearah yang tidak aku inginkan. Lagi – lagi ingatan pahit dimasa kecil hingga membekas didalam hati. Dan seiring berjalannya waktu, kenangan pahit itu berubah menjadi luka batin.

Kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Itulah kata – kata yang tergiang – giang ditelingaku. Kata – kata itu keluar dari mulut ibuku saat aku masih kecil. Dan perkataan itu keluar saat aku sedang mengalami kegagalan.

Berusaha Untuk Tetap Tegar

Awalnya hal itu tidak menjadi masalah bagiku, Sampai pada akhirnya perkataan itu mulai sering terdengar ditelinga. Jujur saja, Aku merasa sangat terganggu dengan kata – kata tersebut. Karna bagiku itu bukanlah perkataan motivasi.

Tetapi sebuah perintah agar aku bersedia melakukan apa yang dikatakan ibuku. Dimana aku harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan. Tentu saja hal itu sangat menyiksa masa kecilku.

Awal Mula Dan Tekanan

Saat aku masih kecil, tepatnya ketika aku masih duduk dibangku SD. Aku memiliki teman – teman yang pintar dalam bidang akademik. Sedangkan aku benar – benar tidak bisa melakukan hal tersebut.

Disitulah ibuku berkata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Kata – kata itu sering dikatakan oleh ibuku saat aku menangis karna belajar terlalu keras. Aku sendiri bingung kenapa aku tetap tidak bisa, Padahal sudah belajar dengan keras.

Cuaca Cukup Gelap Seperti Keadaan Hati Ini

Tetapi tangisanku tetap tidak membuat orang tuaku iba dan kasihan. Mereka tetap memberikanku tekanan dalam belajar. Hingga air mataku menetes ke buku Pelajaran yang sedang aku kerjakan.

Jadi kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa” yang sering terdengar diteligaku itu sangat menyedihkan bagiku. Karna perkataan itu adalah alasan bagi ibuku untuk memberikan aku tekanan dalam belajar, Bukan motivasi.

Tidak Boleh Menggunakan Logika Yang Sama

Perlu diketahui bahwa kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”, Hanya berlaku untukku. Dan tidak berlaku untuk orang lain, Khususnya untuk kedua orang tuaku. Dan inilah aturan tidak tertulis yang dibuat oleh kedua orang tuaku.

Jelas aturan itu dibuat untuk melindungi kepentingan kedua orang tuaku. Karna faktanya, Teman – temanku yang pintar dibidang akademik itu hampir semuanya dari kalangan orang mampu bahkan kaya raya.

Terus Berusaha Untuk Mandiri

Setidaknya mereka memiliki rumah bagus dan banyak mainan mahal. Kesekolah diantar naik mobil pribadi, Bahkan beberapa dari mereka memiliki sopir pribadi. Sedangkan aku berangkat kesekolah hanya menggunakan kendaraan umum.

Lalu setelah turun dari kendaraan umum itu aku melanjutkan perjalanan yang cukup jauh menuju sekolah. Karna Lokasi sekolahku tidak bisa dijangkau oleh kendaraan umum. Aku bisa saja bicara “Kalau orang lain bisa, Maka orang tua harusnya juga bisa”.

Aku mau seperti mereka, diantar kesekolah naik mobil pribadi, Memiliki banyak mainan mahal, tinggal dirumah yang mewah, dll. Tetapi aturan tidak tertulis membuat aku tidak bisa bicara seperti itu.

Rabu, 11 Maret 2026

Kenangan Buruk Yang Sulit Dilupakan

Pagi ini matahari bersinar dengan terang, Memancarkan kehangatan ditengah udara yang cukup dingin. Aku pun menikmatinya dengan menghidup udara segar itu dalam – dalam. Mata ku juga terfokus pada daun hijau yang dipenuhi embun pagi.

Suasana yang menyejukkan hati ini seharusnya bisa menyegarkan pikiran dan hatiku. Tetapi entah kenapa suasana itu malah mengingatkanku pada sebuah kenangan buruk yang pernah terjadi saat diriku masih kecil.

Walaupun Cuacanya Adem, Tapi Pikiran Tetap Berantakan

Dan hampir setiap pagi aku mengingat kenangan buruk yang sebenarnya ingin sekali ku lupakan. Tetapi jika aku melupakan kenangan itu, Maka itu akan berdampak buruk bagi sifatku. Aku menjadi lebih cepat marah bila ada kondisi yang mengangguku.

Walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu marah untuk menghadapi kondisi tersebut. Itulah sebabnya aku tidak bisa melupakan kenangan buruk tersebut. Dan dengan sangat terpaksa, Aku terus membawa kenangan buruk itu didalam ingatanku.

Kenangan 30 Tahun Yang Lalu

Peristiwa itu terjadi 30 tahun yang lalu, Sekitar pertengahan tahun 90’an. Sudah cukup lama dan seharusnya sudah bisa dilupakan dengan mudah. Tetapi faktanya, Kenangan buruk itu selalu hampir selalu menghantuiku setiap hari.

Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi hari diakhir pekan. Dimana biasanya waktu tersebut digunakan oleh keluarga kelas menengah ditempat yang dianggap menyenangkan. Disana mereka melakukan berbagai kegiatan bersama.

Kenangan Yang Selalu Teringat Meski Sudah 30 Tahun Yang Lalu

Ada yang bersepeda, ada yang hanya sekedar berjalan sambil cuci mata, dan ada pula yang berolahraga. Kebetulan saat itu keluargaku memilih untuk berjalan – jalan bersama sambil mencuci mata.

Disamping kanan kiri jalanan itu terdapat banyak sekali orang yang sedang berjualan. Mulai dari jualan makanan, minuman, alat – alat rumah tangga, hingga pakaian. Aku berjalan Santai bersama kedua orang tuaku.

Apakah Kesalahan Ini Layak Untuk Dihukum Seperti Itu ?

Suatu ketika saat sedang berjalan Santai dengan kedua orang tuaku. Disituasi yang ramau tersebut, Aku yang saat itu masih kecil mencelupkan sedikit jari tangan ku ke dalam wadah penjual es campur.

Saat itu aku hanya ingin tahu apa yang ada didalam air es campur tersebut. Jelas saja penjual es campur tersebut serentak berkata “Jangan dek!!”. Sesaat setelahnya, Tangan ayahku menghantam kepalaku dengan kencang dari belakang “Plaakkk !!!”.

Rasa Sedih Dan Rasa Takut

Aku pun langsung mengangkat tanganku, Dan langsung menggandeng tangan ibuku dengan erat. Setelah memukulku ayahku langsung membentakku dari posisi yang sama “Sembarangan aja kamu tuh, Dasar Malu – maluin !!!”.

Kata – kata itu terdengar sangat keras dan menyeramkan ditelingaku, Bahkan sampai saat ini pun aku masih merasakan sakitnya bentakkan tersebut. Padahal peristiwa itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.

Sambil memegang tangan ibuku, Aku terus berjalan kearah depan dengan mata yang berkaca – kaca sambil menahan rasa malu. Bukannya berhenti, Ayahku justru memukul kepalaku lagi dari berlakang.

Tetapi pukulan kali ini disertai dengan kata – kata “Nangis kamu !!!, Nangis ??!!”. Dari situ aku langsung berusaha untuk menahan air mataku agar tidak tertumpah. Sambil terus memegang erat tangan ibuku.

Rumah Yang Tidak Lagi Menjadi Tempat Aman

Saat itu aku berharap agar ibuku membelaku dengan menahan amarah ayahku. Tetapi harapan itu tidak pernah terjadi. Ibuku malah diam seperti tidak terjadi apa – apa, Biarpun aku memegang tangannya dengan erat.

Memiliki Sifat Buruk

Terus terang, Sebenarnya aku sudah memaafkan kedua orang tuaku tentang kenangan buruk tersebut. Bahkan aku juga sudah sempat melupakan kenangan buruk tersebut untuk beberapa lama.

Tetapi kenangan itu malah membekas di sifat dan menjadi karakterku. Emosiku menjadi tidak stabil dan cepat marah bila ada situasi yang diluar dugaanku. Tentu itu bukanlah sifat yang menyenangkan.

Perasaan Yang Putus Asa Itu Juga Berasal Dari Kenangan 30 Tahun Lalu

Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa sifat buruk itu harus dihilangkan. Karna sifat itu bisa melukai orang – orang yang aku sayangi. Aku pun merenung untuk memikirkan alasan kenapa sifat buruk itu ada didalam diriku.

Akhirnya aku pun menyadari bahwa penyebab dari sifat buruk tersebut adalah kenangan buruk yang pernah terjadi 30 tahun yang lalu. Dimana ayahku memukul kepalaku dari belakang dengan keras didepan umum.

Sejak saat itulah, kenangan buruk itu sering menghantuiku disetiap pagi. Aku tidak bisa melupakan kenangan yang menyakitkan itu. Walaupun sebenarnya itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.

Tidak Merasa Bersalah

Saat aku sedang berjuang untuk menyembuhkan luka batin. Tiba – tiba ayahku berkata “Lupakan masa lalu, Fokus sama masa depan”. Kalimat itu tentu tidak salah, Hanya saja menurutku kalimat itu keluar dimomen yang salah.

Dan momen yang salah inilah yang membuat kalimat itu terdengar seperti pelecehan bagiku. Dan kalimat itu juga menambah beban mental dihatiku. Karna aku berusaha seorang diri untuk menyembuhkan luka batinku.

Kelelahan Mental Membuatnya Untuk Menjauh Dari Orang Tua

Orang tuaku sama sekali tidak pernah bertanya kepadaku tentang kesulitan – kesulitan yang aku hadapi. Bahkan pencapaian – pencapaianku tidak pernah dihargai oleh kedua orang tuaku. Hatiku benar – benar terasa sakit saat mendengar kalimat tersebut.

Jujur aku menulis artikel ini bukan karna aku dendam pada kedua orang tuaku. Tetapi karna aku berusaha untuk mengurangi beban luka batin yang sudah terlalu lama ada didalam hatiku. Dan aku meluapkan semua bebanku itu didalam tulisan yang aku buat ini.

Minggu, 08 Maret 2026

Hikmah Yang Aku Dapat Dari Acara Buka Puasa Bersama Tahun 2026

Entah kenapa akhir – akhir ini aku merasa agak malas bila diajak untuk datang ke acara buka puasa bersama. Padahal sebelumnya aku senang sekali bila ada yang mengajakku untuk buka puasa bersama.

Hati tidak lagi merasa nyaman bila melakukan buka puasa bersama di tempat – tempat seperti itu. Juju raku harus melakukan effort lebih sekaligus meniatkan hati agar kakiku mau bergerak ke tempat acara.

Momen Buka Puasa Bersama Dengan Rekan - Rekan Kerja

Mungkin karna usiaku yang semakin bertambah aku jadi tidak lagi punya keinginan untuk mengikuti acara buka puasa bersama. Bagiku saat ini momen buka puasa lebih enak dilakukan dirumah atau di masjid bersama tetangga – tetangga.

Tetapi kali ini ajakan untuk hadir dalam acara buka puasa bersama datang dari atasan. Mau tidak mau atau suka tidak suka, Aku harus bersedia untuk memenuhi ajakan tersebut. Akhirnya aku pun berangkat menuju tempat acara menggunakan mobil.

Keputusan Sepele Tapi Krusial

Karena tempat acara yang cukup jauh, Maka aku memutuskan untuk berangkat menggunakan kereta KRL. Tetapi seorang rekan kerja menawarkan tumpangan dengan menggunakan mobil menuju ke tempat acara.

Aku pun setuju untuk nebeng bersama mereka yang terdiri dari 7 orang termasuk diriku. Semua datang tepat waktu di titik kumpul lalu bergegas berangkat pada sore hari. Semua berjalan sesuai dengan rencana hingga keluar pintu tol.

Kondisi Macet Saat Menjelang Berbuka

Keadaan macet hingga membuat mobil yang kami tumpangi tidak bergerak sedikitpun. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 5.17 WIB. Beruntung tempat acara buka puasa bersama itu tidak begitu jauh.

Hanya sekitar 1,5 km atau hanya tinggal beberapa menit bila ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tetapi karna macet yang parah, jarak itu terasa cukup jauh untuk ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Awalnya kami semua sabar dengan kemacetan yang terjadi, Sampai ada seseorang yang mengusulkan untuk jalan kaki saja. Setelah melakukan diskusi singkat, Maka 3 dari 7 orang di mobil memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan kaki.

Dan salah satu dari 3 orang yang berjalan kaki itu adalah aku. Kami bertiga berjalan kaki dengan hati yang cukup lega dan hati yang senang. Bahkan ditengah perjalan itu kami bertiga masih sempat berfoto.

Jalan Kaki Menuju Tempat Berbuka

Hingga pada akhirnya kami bertiga pun sampai tepat waktu di acara buka puasa bersama tersebut. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu adzan Magrib pun berkumandang. Kami bertiga pun menikmati hidangan yang sudah disediakan ditempat tersebut.

Sementara 4 orang teman kami yang masih bertahan dimobil. Hingga mereka semua akhirnya harus berbuka puasa dengan minuman dan makanan seadanya dijalan karna macet. Mereka berempat baru sampai ke tempat berbuka puasa pada sekitar pukul 18.40an. 

Janjian Ke Rumah Teman

Karna saat ini aku sudah tidak tinggal dikota tersebut, Maka aku memutuskan untuk bersilaturahmi dengan teman lama ku di kota tersebut. Aku berfikir kapan lagi aku bisa singgah dikota ini, Kalo bukan karna acara kantor.

Jadi aku pun menghubungi temanku tersebut, Tapi ternyata teman ku berhalangan untuk bertemu. Akhirnya kami tidak jadi bertemu, Dan aku pun mengambil Keputusan pulang dengan rute yang berbeda dari rekan kerjaku sebelumnya.

Jadi awalnya aku berangkat bersama dengan menggunakan mobil, Lalu pulangnya aku sendirian menggunakan kereta KRL. Acara buka puasa bersama berlangsung cukup lancar dengan makanan yang sangat enak.

Berjalan Sendirian Di Malam Hari

Aku pun makan dengan lahab hingga perut terasa sangat kenyang. Hingga waktu pulang pun tiba, Aku memutuskan untuk berpisah dengan 6 orang rekan kerjaku. Meskipun aku tidak jadi bertemu dengan teman lamaku di kota tersebut.

Aku tetap memutuskan pulang sendirian karna memang aku menginginkannya. Dan ternyata disinilah tantangan mulai muncul. Jam sibuk membuat aku sangat kesulitan mencari transportasi roda dua.

Karna terlalu lama aku menunggu dan waktu sudah semakin larut malam. Akhirnya aku memutuskan berjalan kaki menuju stasiun KRL terdekat. Jarak dari tempatku berdiri saat itu dengan stasiun KRL cukup jauh, Sekitar 6,4 Km.

Aku berjalan dengan kecepatan sedang ditengah kondisi hujan dan cuaca yang cukup dingin. Aku berjalan setapak demi setapak sambil sesekali kau berusaha mencari ojek untuk mengantarkan aku ke stasiun KRL terdekat.

Tetapi hal itu ternyata tidak mudah untuk dilakukan, Karna mungkin saat itu sedang jam sibuk. Akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali berjalan, Dan ditengah perjalanan inilah hatiku mulai merasa sangat jengkel.

Meluapkan Emosi Yang Tertahan

Entah kenapa saat itu pikiranku jadi melayang – layang secara liar. Luka batin itu muncul lagi saat aku sedang berjalan dimalam yang sudah larut. Aku berteriak dan memaki – maki masa laluku yang menjengkelkan dipinggir trotoar yang gelap dan sepi.

Seperti meluapkan semua emosi dan amarah yang selama ini tertahan. Ternyata situasi yang gelap dan sepi itu tidak membuatku takut sedikitpun. Aku malah menggunakan situasi itu untuk meluapkan semua kejengkelan yang ada dihatiku.

Kelelahan Mental Membuatnya Frustasi Dan Melampiaskannya Dengan Berteriak

Meskipun aku meluapkan amarahku, Aku tetap bersyukur karna setidaknya perutku dalam kondisi kenyang. Jadi bisa dibilang semua kalori yang aku makan saat berbuka itu langsung aku bakar dengan berjalan kaki.

Dan setelah berjalan cukup jauh dari tempatku berbuka puasa, Aku pun akhirnya bisa menemukan ojek. Dan ojek itu mengantarkan aku menuju ke stasiun KRL terdekat dengan lancar dimalam yang sudah sangat larut.

Hikmah Yang Aku Dapat Dari Acara Buka Puasa Bersama

Setelah berhasil sampai dirumah sekitar pukul 01.00 WIB, Aku langsung membersihkan diri dan bergegas untuk istirahat. Lalu keesokan harinya aku merenungi kejadian kemarin, Disitulah aku menemukan beberapa hikmah yang bisa aku dapat.

Berawal dari saat aku berangkat menuju tempat acara berbuka puasa. Aku dan 2 orang temanku yang lain memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat acara berbuka puasa. Karna memang jaraknya tidak terlalu jauh.

Istirahat Sambil Menenangkan Pikiran

Dan akhirnya aku dan 2 orang temanku berhasil sampai tepat waktu di tempat acara. Lalu setelah itu bisa menikmati hidangan yang sangat enak. Sedangkan 4 orang yang lainnya memilih untuk tetap didalam mobil.

Hingga akhirnya mereka berempat harus buka puasa didalam mobil dengan air dan makanan yang seadanya. Dari kejadian itu aku berfikir bahwa memang kita membutuhkan usaha extra untuk mencapai sesuatu dengan lebih cepat.

Lalu saat pulang, Aku memutuskan untuk berpisah jalan. Bisa dibilang ini adalah Keputusan yang kurang tepat. Karna ternyata aku harus mengeluarkan effort yang cukup melelahkan. Sebenarnya itu tidak masalah bagiku.

Tetapi bila Keputusan itu aku ambil saat bersama dengan istriku. Maka pilihan itu menjadi pilihan yang sangat buruk. Aku tidak bisa membayangkan bila saat itu aku harus berjalan cukup jauh bersama dengan istriku untuk menuju stasiun KRL terdekat.

Tertidur Setelah Kelelahan 

Ditengah kondisi trotoar jalan yang sepi dan lumayan gelap. Ditambah lagi dengan cuaca yang cukup dingin karna baru saja terjadi hujan lebat. Mungkin aku masih bisa melakukannya sendirian, Tetapi istriku tidak mungkin aku tega melakukannya.

Dari sini aku belajar untuk berfikir secara matang sebelum memutuskan sebuah pilihan. Jangan jadi orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Karna Keputusan yang aku ambil akan berdampak pada istriku dimasa yang akan datang.