Pagi ini matahari bersinar dengan terang, Memancarkan kehangatan ditengah udara yang cukup dingin. Aku pun menikmatinya dengan menghidup udara segar itu dalam – dalam. Mata ku juga terfokus pada daun hijau yang dipenuhi embun pagi.
Suasana yang menyejukkan hati ini seharusnya bisa menyegarkan pikiran dan hatiku. Tetapi entah kenapa suasana itu malah mengingatkanku pada sebuah kenangan buruk yang pernah terjadi saat diriku masih kecil.
![]() |
| Walaupun Cuacanya Adem, Tapi Pikiran Tetap Berantakan |
Dan hampir setiap pagi aku mengingat kenangan buruk yang sebenarnya ingin sekali ku lupakan. Tetapi jika aku melupakan kenangan itu, Maka itu akan berdampak buruk bagi sifatku. Aku menjadi lebih cepat marah bila ada kondisi yang mengangguku.
Walaupun hal itu sebenarnya tidak perlu marah untuk menghadapi kondisi tersebut. Itulah sebabnya aku tidak bisa melupakan kenangan buruk tersebut. Dan dengan sangat terpaksa, Aku terus membawa kenangan buruk itu didalam ingatanku.
Kenangan 30 Tahun Yang Lalu
Peristiwa itu terjadi 30 tahun yang lalu, Sekitar pertengahan tahun 90’an. Sudah cukup lama dan seharusnya sudah bisa dilupakan dengan mudah. Tetapi faktanya, Kenangan buruk itu selalu hampir selalu menghantuiku setiap hari.
Peristiwa itu terjadi pada suatu pagi hari diakhir pekan. Dimana biasanya waktu tersebut digunakan oleh keluarga kelas menengah ditempat yang dianggap menyenangkan. Disana mereka melakukan berbagai kegiatan bersama.
![]() |
| Kenangan Yang Selalu Teringat Meski Sudah 30 Tahun Yang Lalu |
Ada yang bersepeda, ada yang hanya sekedar berjalan sambil cuci mata, dan ada pula yang berolahraga. Kebetulan saat itu keluargaku memilih untuk berjalan – jalan bersama sambil mencuci mata.
Disamping kanan kiri jalanan itu terdapat banyak sekali orang yang sedang berjualan. Mulai dari jualan makanan, minuman, alat – alat rumah tangga, hingga pakaian. Aku berjalan Santai bersama kedua orang tuaku.
Apakah Kesalahan Ini Layak Untuk Dihukum Seperti Itu ?
Suatu ketika saat sedang berjalan Santai dengan kedua orang tuaku. Disituasi yang ramau tersebut, Aku yang saat itu masih kecil mencelupkan sedikit jari tangan ku ke dalam wadah penjual es campur.
Saat itu aku hanya ingin tahu apa yang ada didalam air es campur tersebut. Jelas saja penjual es campur tersebut serentak berkata “Jangan dek!!”. Sesaat setelahnya, Tangan ayahku menghantam kepalaku dengan kencang dari belakang “Plaakkk !!!”.
![]() |
| Rasa Sedih Dan Rasa Takut |
Aku pun langsung mengangkat tanganku, Dan langsung menggandeng tangan ibuku dengan erat. Setelah memukulku ayahku langsung membentakku dari posisi yang sama “Sembarangan aja kamu tuh, Dasar Malu – maluin !!!”.
Kata – kata itu terdengar sangat keras dan menyeramkan ditelingaku, Bahkan sampai saat ini pun aku masih merasakan sakitnya bentakkan tersebut. Padahal peristiwa itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.
Sambil memegang tangan ibuku, Aku terus berjalan kearah depan dengan mata yang berkaca – kaca sambil menahan rasa malu. Bukannya berhenti, Ayahku justru memukul kepalaku lagi dari berlakang.
Tetapi pukulan kali ini disertai dengan kata – kata “Nangis kamu !!!, Nangis ??!!”. Dari situ aku langsung berusaha untuk menahan air mataku agar tidak tertumpah. Sambil terus memegang erat tangan ibuku.
![]() |
| Rumah Yang Tidak Lagi Menjadi Tempat Aman |
Saat itu aku berharap agar ibuku membelaku dengan menahan amarah ayahku. Tetapi harapan itu tidak pernah terjadi. Ibuku malah diam seperti tidak terjadi apa – apa, Biarpun aku memegang tangannya dengan erat.
Memiliki Sifat Buruk
Terus terang, Sebenarnya aku sudah memaafkan kedua orang tuaku tentang kenangan buruk tersebut. Bahkan aku juga sudah sempat melupakan kenangan buruk tersebut untuk beberapa lama.
Tetapi kenangan itu malah membekas di sifat dan menjadi karakterku. Emosiku menjadi tidak stabil dan cepat marah bila ada situasi yang diluar dugaanku. Tentu itu bukanlah sifat yang menyenangkan.
![]() |
| Perasaan Yang Putus Asa Itu Juga Berasal Dari Kenangan 30 Tahun Lalu |
Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa sifat buruk itu harus dihilangkan. Karna sifat itu bisa melukai orang – orang yang aku sayangi. Aku pun merenung untuk memikirkan alasan kenapa sifat buruk itu ada didalam diriku.
Akhirnya aku pun menyadari bahwa penyebab dari sifat buruk tersebut adalah kenangan buruk yang pernah terjadi 30 tahun yang lalu. Dimana ayahku memukul kepalaku dari belakang dengan keras didepan umum.
Sejak saat itulah, kenangan buruk itu sering menghantuiku disetiap pagi. Aku tidak bisa melupakan kenangan yang menyakitkan itu. Walaupun sebenarnya itu sudah terjadi 30 tahun yang lalu.
Tidak Merasa Bersalah
Saat aku sedang berjuang untuk menyembuhkan luka batin. Tiba – tiba ayahku berkata “Lupakan masa lalu, Fokus sama masa depan”. Kalimat itu tentu tidak salah, Hanya saja menurutku kalimat itu keluar dimomen yang salah.
Dan momen yang salah inilah yang membuat kalimat itu terdengar seperti pelecehan bagiku. Dan kalimat itu juga menambah beban mental dihatiku. Karna aku berusaha seorang diri untuk menyembuhkan luka batinku.
![]() |
| Kelelahan Mental Membuatnya Untuk Menjauh Dari Orang Tua |
Orang tuaku sama sekali tidak pernah bertanya kepadaku tentang kesulitan – kesulitan yang aku hadapi. Bahkan pencapaian – pencapaianku tidak pernah dihargai oleh kedua orang tuaku. Hatiku benar – benar terasa sakit saat mendengar kalimat tersebut.
Jujur aku menulis artikel ini bukan karna aku dendam pada kedua orang tuaku. Tetapi karna aku berusaha untuk mengurangi beban luka batin yang sudah terlalu lama ada didalam hatiku. Dan aku meluapkan semua bebanku itu didalam tulisan yang aku buat ini.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.