Lagi enak – enak menikmati suasana pagi yang sejuk, Pikiranku melayang kearah yang tidak aku inginkan. Lagi – lagi ingatan pahit dimasa kecil hingga membekas didalam hati. Dan seiring berjalannya waktu, kenangan pahit itu berubah menjadi luka batin.
Kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Itulah kata – kata yang tergiang – giang ditelingaku. Kata – kata itu keluar dari mulut ibuku saat aku masih kecil. Dan perkataan itu keluar saat aku sedang mengalami kegagalan.
![]() |
| Berusaha Untuk Tetap Tegar |
Awalnya hal itu tidak menjadi masalah bagiku, Sampai pada akhirnya perkataan itu mulai sering terdengar ditelinga. Jujur saja, Aku merasa sangat terganggu dengan kata – kata tersebut. Karna bagiku itu bukanlah perkataan motivasi.
Tetapi sebuah perintah agar aku bersedia melakukan apa yang dikatakan ibuku. Dimana aku harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan. Tentu saja hal itu sangat menyiksa masa kecilku.
Awal Mula Dan Tekanan
Saat aku masih kecil, tepatnya ketika aku masih duduk dibangku SD. Aku memiliki teman – teman yang pintar dalam bidang akademik. Sedangkan aku benar – benar tidak bisa melakukan hal tersebut.
Disitulah ibuku berkata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”. Kata – kata itu sering dikatakan oleh ibuku saat aku menangis karna belajar terlalu keras. Aku sendiri bingung kenapa aku tetap tidak bisa, Padahal sudah belajar dengan keras.
![]() |
| Cuaca Cukup Gelap Seperti Keadaan Hati Ini |
Tetapi tangisanku tetap tidak membuat orang tuaku iba dan kasihan. Mereka tetap memberikanku tekanan dalam belajar. Hingga air mataku menetes ke buku Pelajaran yang sedang aku kerjakan.
Jadi kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa” yang sering terdengar diteligaku itu sangat menyedihkan bagiku. Karna perkataan itu adalah alasan bagi ibuku untuk memberikan aku tekanan dalam belajar, Bukan motivasi.
Tidak Boleh Menggunakan Logika Yang Sama
Perlu diketahui bahwa kata – kata “Kalau orang lain bisa, Maka kamu harusnya juga bisa”, Hanya berlaku untukku. Dan tidak berlaku untuk orang lain, Khususnya untuk kedua orang tuaku. Dan inilah aturan tidak tertulis yang dibuat oleh kedua orang tuaku.
Jelas aturan itu dibuat untuk melindungi kepentingan kedua orang tuaku. Karna faktanya, Teman – temanku yang pintar dibidang akademik itu hampir semuanya dari kalangan orang mampu bahkan kaya raya.
![]() |
| Terus Berusaha Untuk Mandiri |
Setidaknya mereka memiliki rumah bagus dan banyak mainan mahal. Kesekolah diantar naik mobil pribadi, Bahkan beberapa dari mereka memiliki sopir pribadi. Sedangkan aku berangkat kesekolah hanya menggunakan kendaraan umum.
Lalu setelah turun dari kendaraan umum itu aku melanjutkan perjalanan yang cukup jauh menuju sekolah. Karna Lokasi sekolahku tidak bisa dijangkau oleh kendaraan umum. Aku bisa saja bicara “Kalau orang lain bisa, Maka orang tua harusnya juga bisa”.
Aku mau seperti mereka, diantar kesekolah naik mobil pribadi, Memiliki banyak mainan mahal, tinggal dirumah yang mewah, dll. Tetapi aturan tidak tertulis membuat aku tidak bisa bicara seperti itu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.