Berawal dari iseng buka social media sambil duduk Santai diteras rumah dengan pemandangan rumput hijau dan pohon yang rindang. Ditemani secangkir kopi hangat dan beberapa cemilan dengan udara dipagi hari yang menyegarkan.
Ditengah suanasa tenang dan santai tersebut muncul kata – kata yang membuatku berfikir sejenak. Dan kata – kata itu adalah "Semakin seseorang mengenal dirinya sendiri, semakin sedikit kebutuhan untuk membuktikan sesuatu pada orang lain".
Dari kata – kata itu muncul pertanyaan didalam pikiranku "Apakah ini penyebab semangatku menjadi hilang ?". Karna memang dahulu saat usiaku masih 20 tahunan aku memiliki semangat dan ambisi yang sangat luar biasa.
![]() |
| Berfikir Sambil Menikmati Secangkir Kopi Dan Cemilan |
Aku harus menjadi yang nomor satu disebuah kompetisi, Meskipun sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dimenangkan. Aku tetap berjuang dengan api semangat yang membara, Seperti orang yang tidak mengenal kata takut gagal.
Aku pun tertawa tipis sambil hanyut dalam lamunan karna memikirkan kata – kata tersebut. Lalu mengingat bagaimana semangat yang dahulu pernah ada didalam diri ini. Sebelum akhirnya hilang tanpa sebab yang jelas.
Api Semangat Mencari Validasi
Saat masih SMA aku memiliki hobi yang ingin aku jadikan sebagai profesi dimasa depan. Dan hobi itu adalah sepak bola, aku sangat terobsesi untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional.
Memang hal itu sulit untuk diwujudkan, Tetapi karna api semangat didalam dada itu masih menyala. Maka aku pun berjuang habis – habisan untuk mewujudkan Impianku menjadi seorang pemain sepak bola professional.
![]() |
| Latihan Fisik Dan Menunda Kenyamanan Untuk Sebuah Tujuan |
Jadi tidak heran bila aku banyak mengikuti banyak kejuaraan – kejuaraan dan seleksi sepak bola. Meskipun peluang untuk menangnya sangat tipis bahkan tidak ada. Aku tetap semangat untuk terus mencoba.
Sekaligus menjaga hatiku agar tetap yakin untuk bisa memenangkan kejuaraan tersebut. Karena bagiku, sepak bola bukanlah matematika. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi didalam lapangan.
Meskipun aku seringkali merasakan pahitnya kekalahan, tetapi dikemudian hari aku bisa merasakan manisnya kemenangan. Aku juga mendapatkan beberapa penghargaan atau achivement dibidang lain.
Memang saat itu aku sudah mengubur impianku untuk menjadi seorang pemain sepak bola professional. Karna memang usiaku sudah tidak lagi mendukung untuk menjadi seorang pemain sepak bola professional.
![]() |
| Selalu Berusaha Untuk Masuk Kedalam Circle Meski Tidak Dihargai |
Lamunan itu membawaku kembali ke masa sekarang, dimana aku sedang menikmati udara pagi sambil ditemani kopi dan cemilan. Disitu muncul pertanyaan berikutnya "Setelah mendapatkan penghargaan dibidang lain, Lalu apa pendapat orang lain ?”.
Apakah orang lain bertepuk tangan setelah melihat aku mendapatkan penghargaan ?. Jawabannya munkin iya sebentar, Lalu mereka berkata "Selamat". Setelah itu mereka kembali ke kehidupan masing – masing.
Dan melupakan pencapaian yang sudah aku dapatkan, Tentu saja menurutku itu sangat wajar. Karna memang aku tidaklah sepenting itu dimata mereka. Dari lamunan dipagi itu aku menyadari bahwa mungkin saat itu yang aku kejar bukanlah pencapaiannya.
![]() |
| Santai Dan Bersikap Apa Adanya Ternyata Lebih Menyenangkan |
Tetapi validasi atau pengakuan dari orang – orang yang ada disekitarku. Aku ingin mereka terkesan dengan pencapaianku, Lalu menghargaiku seperti orang yang hebat. Padahal faktanya setelah aku berhasil mencapainya, mereka tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.
Dari pemikirian dipagi hari yang tenang dan damai itu aku menyimpulkan fakta menarik tentang diriku sendiri. Yaitu adalah sebagian besar semangat dan ambisiku saat itu adalah untuk diakui sekaligus membuat orang lain terkesan, Bukan karena keinginan dari dalam diri sendiri.
Tanpa Sadar Sudah Mengenal Diri Sendiri
Jujur dulu aku bingung kenapa api semangat itu tiba – tiba hilang, Aku sendiri sudah berkali – kali mencoba untuk menyalakan api semangat tersebut. Dan mencari – cari alasan yang cukup kuat untuk menyalakan api semangat tersebut.
Tetapi berkali – kali pula aku gagal melakukannya, Hingga pagi hari ini aku menyadari alasan kenapa api semangat di dalam dadaku itu menghilang. Kemungkinan hal itu disebabkan karna aku sudah lebih mengenal diriku sendiri dibandingkan sebelumnya.
![]() |
| Lebih Percaya Diri Tanpa Mengejar Validasi |
Aku menyadari bahwa ternyata selama ini aku banyak melakukan sesuatu bukan atas dasar keinginanku sendiri. Tetapi berdasarkan kebutuhan untuk diakui atau dihargai oleh orang – orang disekitarku.
Padahal fakta sudah sangat jelas bahwa orang lain sama sekali tidak peduli dengan semua pencapaian atau achivement yang sudah aku dapatkan. Begitu juga dengan semua kegagalan – kegagalanku.
Aku juga baru menyadari bahwa ternyata sebagian besar ambisiku bukan terlahir dari keinginanku sendiri, tetapi dari rasa ingin diakui dan dihargai. Fakta itu mungkin mengecewakan dan cukup mengguncang jiwaku yang sedang bersantai dipagi hari.
Tetapi tetap ada hal baik yang bisa disyukuri pada pagi hari yang tenang tersebut. Dan hal itu adalah ternyata aku sudah jauh lebih mengenal diriku sendiri tanpa menyadarinya. Karna aku baru menyadarinya setelah meresapi kata – kata yang aku lihat disosial media tersebut.
Langkah Apa Yang Harus Diambil ?
Setelah menyadari tentang diri sendiri, Aku pun langsung memikirkan langkah berikutnya. Disini muncul pertanyaan didalam pirkiranku “Apa yang ingin aku capai berikutnya ?”. Tentu saja pencapaian ini adalah sesuatu keinginan didalam diriku.
![]() |
| Fokus Ke Langkah Berikutnya |
Sebuah pencapaian yang berasal dari keinginan diri sendiri. Bukan dari kebutuhan untuk diakui dan dihargai oleh orang lain. Dan masalah berikutnya adalah aku belum menemukan ambisi yang sebenarnya dari diriku sendiri.
Inilah alasannya kenapa hidupku seperti tidak ada semangat, Padahal dulu aku begitu menggebu – gebu dalam berbagai hal. Meskipun begitu aku cukup lega karna akhirnya aku menemukan alasan hilangnya api semangat tersebut.
Tentu saja hal ini cukup memuaskan dan melegakan bagiku. Pagi yang tenang dan menyenangkan itupun terasa menjadi lebih berkesan. Lalu kira – kira apa yang ingin aku capai berikutnya ?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.